Lompat ke konten

Potensi Fitoteknologi Terhadap Pengelolaan Sumber Daya Air

Print Friendly, PDF & Email

Air merupakan sumber kehidupan dan sangat penting bagi manusia. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks, antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Dengan demikian untuk kelangsungan hidup, air harus tersedia dalam jumlah yang cukup dan berkualitas yang memadai (Suryani 2016). Permasalahan umum dalam pengelolaan sumber daya air pada dasarnya terdiri atas 3 aspek yaitu terlalu banyak air, kekurangan air dan pencemaran air. Terlalu banyak air atau banjir sering terjadi di banyak daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Medan bahkan di Kota Banda Aceh. Untuk mengatasi bahaya dan kerugian akibat banjir dapat dilakukan upaya struktural dan non struktural. Upaya struktural meliputi normalisasi sungai, tanggul, sudetan, waduk pengendali banjir, daerah retensi banjir dan perbaikan lahan (reboisasi, terassering), sedangkan upaya non struktural adalah zonasi banjir, pengaturan pada dataran banjir, peramalan banjir dan peringatan dini, dan pemasangan peil banjir (Sjarief 2002).

Konsep yang memusatkan peran tumbuhan sebagai teknologi alami untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan dikenal dengan istilah fitoteknologi. Dalam tinjauan teknologi dan proses memperjelas fitoteknologi sebagai cara pendekatan berbasis alam dalam penyelesaian permasalahan lingkungan (Mangkoedihardjo dan Samudro 2010). Fitoteknologi didasari pada kajian transformasi efek zat dalam ekotoksikologi. Sehingga perlu disikapi efek negatif zat sebagai penjagaan kesehatan dan keberlanjutan kehidupan (Mangkoedihardjo dan Samudro 2009). Fitoteknologi dapat dikembangkan untuk fitostruktur, fitodrainase, fitoproteksi, fitoproses, fitoremediasi, fitomonitoring maupun fitoforensik terhadap pencemaran lingkungan.

  1. Konservasi Sumber Daya Air

Konservasi sumber daya air adalah usaha-usaha untuk menjaga air tetap produktif, baik secara kualitas dan kuantitasnya. Selain itu juga agar air dapat lebih banyak tersimpan didalam tanah sehingga dapat digunakan tanaman dan mengurangi terjadinya banjir dan erosi. Prinsip dasar dalam konservasi sumber daya air adalah menggunakan tanah sesuai dengan kemampuannya. Konservasi sumber daya air ini sangat terkait dengan konservasi tanah dan air. Kegiatan yang terkait dalam konservasi sumber daya air adalah kegiatan penghijauan. Kegiatan penghijauan merupakan upaya memulihkan atau memperbaiki lahan kritis diluar kawasan hutan agar berfungsi sebagai media tata air yang baik. Selain itu untuk mencegah kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilakukan cara pendekatan sipil teknis (metode mekanis) dan pendekatan vegetative (metode vegetatif). Pendekatan sipil teknis adalah upaya pengendalian laju kerusakan DAS dengan membangun bangunan-bangunan, misalnya embung atau situ, tanggul, dam dan sumur resapan. Sedangkan pendekatan vegetatif adalah upaya penanaman jenis-jenis tanaman yang mampu mengurangi laju kerusakan DAS dengan teknik budidaya yang benar (Ismoyo 2017).

  1. Konservasi Metode Vegetatif

Metode Vegetatif adalah metode untuk mengurangi daya rusak yang diakibatkan oleh limpasan air permukaan dari air hujan yang jatuh ke permukaan tanah dengan menggunakan tanaman atau tumbuh-tumbuhan.

Dalam konservasi dengan metode vegetatif diperoleh beberapa fungsi antara lain (Arsyad 2000 dalam Ismoyo 2017) :

  • Melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh.
  • Melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air di atas permukaan tanah.
  • Memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahanan air yang langsung mempengaruhi besarnya aliran permukaan.

Dalam kajian ini konsevasi metode vegetatif yang dibahas adalah penghutanan kembali (Reforestation) (Subagyono et al. 2003 daalam Ismoyo 2017). Penghutanan Kembali (Reforestation) secara umum dimaksudkan untuk mengembalikan dan memperbaiki kondisi ekologi dan hidrologi suatu wilayah dengan tanaman pohon – pohonan. Hutan mempunyai fungsi tata air yang unik karena mampu menyimpan air dan meredam debit air pada saat musim penghujan dan menyediakan air secara terkendali pada saat musim kemarau (sponge effect).

Teknik vegetatif ini effektif apabila dilakukan pada lahan dengan kedalaman tanah >3m. Apabila dilakukan dengan kedalaman tanah <3 m, maka akan terjadi keterbatasan kapasitas tanah dalam menyimpan air karena aliran permukaan yang cukup tinggi (Agus et al. 2002 dalam Ismoyo 2017). Untuk dapat menyimpan air dan meredam debit air, jenis tanaman yang digunakan dalam teknik konservasi ini sebaiknya berasal dari jenis yang mudah beradaptasi terhadap lingkungan baru, cepat berkembang biak, mempunyai perakaran kuat dan kanopi yang rapat dan rindang.

Jenis tanaman (vegetasi) yang dipakai dalam kajian ini adalah jenis yang mempunyai peran dalam konservasi sumber daya air serta mempunyai nilai ekonomi, antara lain :

  1. Beringin Putih (Ficus Benjamina Var Varigata) Jenis tanaman ini masuk dalam jenis ficus spp yang merupakan family dari Moraceae (suku nangka-nangkaan). Jenis tanaman ini memiliki ciri bergetah, kanopi lebar, jenis akar gantung dari cabang sampai menjulur ke tanah. Terkait dengan konservasi sumber daya air, tanaman ini memiliki nilai hidrologis karena struktur perakaran yang dalam dan kuat serta lateral yang mencengkeram sehingga berperan besar dalam pengaturan tata air (Ulum 2009 dalam Ismoyo 2017).

blank



Gambar 1  Bringin Putih /Ficus Benjamina Var Varigata (Ulum 2009 dalam Ismoyo 2017)

Agar tanaman ini dapat berfungsi secara maksimal, perlu diperhatikan persyaratan sebagai berikut :

  1. Topografi (ketinggian 0 – 1400 dpl (Sastrapaja dan Afriastini 1994 dalam Ismoyo 2017))
  2. Keadaan iklim (Suhu 10°C-37°C(Jimenes 2007 dalam Ismlyo 2017), Curah hujan 1250-2000 mm/tahun(Koeppen dan Trewartha 1943 dalam Ismoyo 2017)).
  3. Keadaan tanah (Dapat tumbuh pada semua jenis tanah)
  4. Kondisi lingkungan (mengurangi tingkat erosi dan kelongsoran tanah).
  5. Dapat beradaptasi pada lereng dengan kemiringan 0%-55%.

2. Bambu (Melocanna Bambusoides)Tanaman jenis ini termasuk dalam tanaman jenis rumput-rumputan. Jenis tanaman ini juga memiliki nilai hidrologis karena memiliki akar yang rapat, menyebar, tidak mudah putus sehingga lahan di bawah tegakan bambu menjadi sangat stabil dan mudah meresapkan air. Menurut Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Kementerian Pertanian (2012) dalam Ismoyo (2017) tanaman ini dapat menjaga ekosistem tanah dan air sehingga dapat dipergunakan sebagai tanaman konservasi. Bambu juga dapat menyerap air hingga 90% (smith 2002 dalam Ismoyo 2017).

blank




Gambar 2  Bambu (Melocanna Bambusoides) (Smith 2002 dalam Ismoyo 2017)

Bambu termasuk jenis tanaman serbaguna atau MPTS (Multi Purpose Trees Spesies), karena hampir seluruh bagian dari tanaman bambu dapat dimanfaatkan. Bambu mempunyai nilai ekologi yaitu sebagai tanaman hias, tirai peredam suara, pengikat karbondioksida dan dapat mencegah erosi apabila ditanam di tepi jurang, lereng dan sungai. Agar tanaman ini dapat berfungsi secara maksimal, perlu diperhatikan persyaratan sebagai berikut :

  1. Topografi (ketinggian 0 – 1500 dpl)
  2. Keadaan iklim (Kelembaban ±80%, Suhu 15°C-41°C,  Curah hujan 1000-3000 mm/tahun).
  3. Keadaan tanah (Dapat tumbuh pada semua jenis tanah, berdrainase baik, pH antara 5,6 – 6,5).
  4. Dapat beradaptasi pada lereng dengan kemiringan 0%-55%.

Potensi fitoteknologi terhadap upaya pengelolaan sumber daya air pada makalah ini ialah melalui konservasi sumber daya air dan konservasi metode vegetatif. Kegiatan yang terkait dalam konservasi sumber daya air adalah kegiatan penghijauan. Kegiatan penghijauan merupakan upaya memulihkan atau memperbaiki lahan kritis diluar kawasan hutan agar berfungsi sebagai media tata air yang baik. Sedangkan konservasi metode vegetasi yang dibahas dalam makalah ini adalah penghutanan kembali (Reforestation). Penghutanan Kembali (Reforestation) secara umum dimaksudkan untuk mengembalikan dan memperbaiki kondisi ekologi dan hidrologi suatu wilayah dengan tanaman pohon – pohonan. Hutan mempunyai fungsi tata air yang unik karena mampu menyimpan air dan meredam debit air pada saat musim penghujan dan menyediakan air secara terkendali pada saat musim kemarau. Dalam metode mekanik ini memiliki prinsip yaitu mengurangi hilangnya tanah dalam volume yang cukup besar akibat erosi. Fungsi dari konservasi metode mekanik adalah memperlambat aliran permukaan, menampung dan mengalirkan aliran permukaan sehingga tidak merusak, memperbesar kapasitas infiltasi air ke dalam tanah dan memperbaiki aerasi tanah, menyediakan air bagi tanaman.

Daftar Pustaka

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

citra rahma niar
Cari artikel lain: Baca artikel lain:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.