Greentech Entrepreneurs Network Menggagas Aksi Kolaboratif untuk Perubahan Iklim

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam kondisi cuaca rata-rata di planet kita. Ini mencakup peningkatan suhu rata-rata, perubahan pola […]

blank

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam kondisi cuaca rata-rata di planet kita. Ini mencakup peningkatan suhu rata-rata, perubahan pola curah hujan, peningkatan tingkat lautan, dan banyak lagi. Perubahan iklim terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida.

Peningkatan emisi gas rumah kaca ini menyebabkan efek pemanasan global. Gas rumah kaca memungkinkan radiasi matahari masuk ke atmosfer, tetapi mencegah sebagian panas terpancar kembali ke lapisan atas atmosfer. Akibatnya, suhu permukaan bumi naik.

Dampak perubahan iklim yang konkret termasuk pencairan es di kutub, peningkatan tingkat laut, intensitas banjir dan kekeringan yang lebih parah, perubahan pola musim yang ekstrem, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Ini juga berdampak pada sektor pertanian, kesehatan manusia, dan ekonomi global secara keseluruhan.

Para ilmuwan telah mengumpulkan bukti yang luas tentang perubahan iklim, termasuk pengamatan cuaca dan iklim historis, penyelidikan laboratorium mengenai efek gas rumah kaca, dan model iklim yang kompleks. Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) adalah organ ilmiah utama yang menyatukan penelitian-perubahan iklim.

Untuk mengatasi perubahan iklim, banyak upaya dilakukan baik secara nasional maupun internasional. Tujuan utama adalah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan beralih ke sumber energi bersih dan berkelanjutan, meningkatkan efisiensi energi, mendorong transportasi berkelanjutan, meningkatkan keberlanjutan pertanian, dan melakukan upaya konservasi habitat alami.

Isu perubahan iklim sangat membutuhkan aksi kolektif berbagai pihak demi mendorong transisi menuju masa depan berkelanjutan. Keberadaan teknologi hijau diyakini mampu meningkatkan nilai dari hulu hingga hilir demi mencapai net zero emission pada tahun 2060. Sebagai upaya mengembangkan kemampuan dan kapasitas wirausaha teknologi hijau, GIZ Indonesia atas nama Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (BMZ) bekerja sama dengan Bappenas, melalui proyek Digital Transformation Center (DTC) Indonesia dengan dukungan Endeavor Indonesia melangsungkan rangkaian program Greentech Entrepreneurs Network (GEN). Dikutip dari http://detik.com Taufiq Hidayat Putra selaku Direktur Ketenagalistrikan, Telekomunikasi dan Informatika Kementerian PPN/Bappenas menjelaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memajukan pembangunan ekonomi hijau.

Teknologi hijau merujuk pada inovasi dan solusi teknologis yang dirancang untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan lebih berkelanjutan dari segi penggunaan sumber daya alam, energi, dan dampak karbon. Ini bertujuan untuk mengatasi tantangan perubahan iklim, kehilangan biodiversitas, dan perusakan lingkungan. Ada berbagai jenis teknologi hijau yang mencakup berbagai sektor, termasuk energi, transportasi, bangunan, limbah, pertanian, dan industri.

Dalam sektor energi, teknologi hijau termasuk sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, tenaga angin, energi hidro, dan bioenergi. Energinya dihasilkan secara bersih dan berkelanjutan, dengan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah daripada energi fosil tradisional.

Dalam sektor transportasi, teknologi hijau mencakup mobil listrik, kendaraan hidrogen, penggunaan bahan bakar bio dalam industri penerbangan, investasi dalam transportasi berkelanjutan seperti kereta api dan transportasi umum, serta pengembangan infrastruktur pengisian ulang dan pengisian ulang baterai yang ramah lingkungan.

Dalam sektor bangunan, teknologi hijau melibatkan efisiensi energi seperti pemanasan dan pendinginan yang lebih efisien, pemanfaatan energi matahari untuk pencahayaan alami dan pembangkit listrik surya, serta penggunaan bahan bangunan ramah lingkungan seperti bahan daur ulang dan material tahan terhadap cuaca.

Dalam sektor limbah dan pengolahan air, teknologi hijau melibatkan pengolahan limbah yang lebih efisien, daur ulang dan reuse material, pengolahan air minum yang efisien, serta solusi inovatif untuk pengelolaan limbah seperti kompos dan biomassa.

Dalam sektor pertanian, teknologi hijau mencakup pertanian berkelanjutan yang mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia, pertanian presisi menggunakan teknologi informasi dan sensor yang meningkatkan efisiensi, dan pengembangan tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.

Dalam sektor industri, teknologi hijau melibatkan proses dan sistem produksi yang efisien dalam penggunaan energi dan sumber daya, daur ulang limbah industri, dan pengolahan sisa produk.

Saat ini, perhatian besar Indonesia adalah tentang cara hidup berkelanjutan dengan kualitas lebih baik. Karena itu, pembangunan ekonomi hijau dan energi transisi terus digenjot, ujarnya dalam diskusi tren greentech di Indonesia, di JS Luwansa, Jakarta, Kamis (1/2), dikutip dari http://detik.com. Pemerintah sangat sadar menyusun prioritas untuk implementasi hidup yang berkelanjutan. Lewat rencana pembangunan nasional, dan ingin terus berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Keberhasilan pembangunan tentu tidak berasal hanya dari pemerintah, melainkan kolaborasi secara pentahelix. Berlangsung selama tiga hari, program GEN siap mendorong dan mengkatalisasi pertumbuhan vertikal startup teknologi hijau di Indonesia. Kegiatan GEN berfokus untuk melibatkan pembangunan kapasitas kewirausahaan dalam bentuk akselerasi bisnis serta penguatan jaringan kolaborasi antara bisnis dan sektor publik. Kegiatan ini sekaligus membuka akses kepada mitra bisnis potensial, investor, dan mentor dengan mengajak berbagai pihak antara lain pemerintah daerah hingga LSM untuk ikut berpartisipasi. Selama ini, tingkat kewirausahaan di Indonesia sangat tinggi. Meski begitu, para wirausaha, termasuk UMKM dan startup banyak yang akselerasinya terhambat di ideation untuk meramu produk apa yang sesuai serta dukungan lain yang dibutuhkan.

Melalui GEN, dilakukan usaha untuk break the ceiling agar pengusaha mampu mengelola resources yang mereka punya. Menggandeng Endeavor sebagai partner, program ini erlihat sangat cocok untuk memberikan business practice dan mampu perluas kolaborasi hingga berjejaring. Lewat program ini, harapannya bisa membangun berbagai portofolio kerja sama demi meningkatkan kredibilitas agar pada akhirnya pendana bisa percaya pada pelaku usaha.

Selama penyelenggaraannya, para peserta mendapatkan berbagai ilmu mulai dari pembahasan mendalam tentang sektor teknologi hijau yang ditekuni, seluk-beluk regulasi sektor hijau di Indonesia, strategi penjualan, strategi perekrutan karyawan, hingga topik lain yang relevan. Acara ini dikemas dalam bentuk Scale Up Academy dan melibatkan sejumlah pakar ternama seperti Andianto Haryoko (Koordinator Ekosistem dan Pemanfaatan TIK, Kementerian PPN/Bappenas), Andriah Feby Misna (Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Dirjen EBTKE Kementerian ESDM), Arif Utomo (Senior Engagement Lead for Energy and Sustainable Business, WRI Indonesia), dan lainnya. Andianto Haryoko menitikberatkan pada aspek penting mendapatkan pendanaan bagi sektor teknologi hijau.

Selama ini, pemerintah memiliki tiga aspek utama dalam mengatasi berbagai hambatan, diantaranya kebijakan regulasi, kelembagaan dan pendanaan. Khusus pendanaan, penting adanya regulasi yang tepat sasaran untuk adanya akses pendanaan ke greentech. Sebagai wirausaha, pelaku usaha perlu membuktikan kredibilitasnya sehingga dianggap mampu kelola resource-nya. Lewat program GEN ini, diharapkan para wirausaha mampu mendapatkan berbagai best practice dalam mengembangkan usahanya.

blank

Selain Scale Up Academy, Business Matching dan Networking Night menghadirkan rangkaian acara yang mencakup sesi presentasi dari para peserta, focus group discussion (FGD), dan sesi speed dating antara peserta dan investor. Nantinya di bulan Maret – April 2024, akan ada sesi Founder to Founder Mentoring yang siap menyajikan dua sesi mentoring kelompok dengan format hybrid. Dalam kesempatan ini, peserta akan mendapatkan bimbingan langsung dari mentor berpengalaman dan pemimpin industri yang telah sukses di sektor teknologi hijau.

Program Greentech Entrepreneurs Network (GEN) didukung secara teknis oleh Endeavor Indonesia, komunitas global entrepreneur berpengaruh tinggi yang sudah ada di 43 negara.

REFERENSI:

  1. Smith, John. 2021. Green Technology: Innovations for a Sustainable Future. Penerbit: Wiley.
  2. Johnson, Emily. 2020. The Role of Green Technology in Environmental Conservation. Jurnal Lingkungan Hidup, vol. 15, no. 2, 2020, hal. 78-91. Penerbit: Universitas Negeri Jakarta.
  3. Brown, Michael. 2019. Green Technology and Its Economic Impacts. Penerbit: Routledge.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *