Beginilah Kronologi Terjadinya Wabah Virus Covid-19

Virus Corona (SARS-CoV-2) dengan nama penyakit Covid-19 memang menjadi wabah yang mematikan yang terjadi semenjak Desember 2019 hingga saat ini. Banyak warga di seluruh dunia termasuk Indonesia terkena dampak pandemi ini. Hal ini membuat banyak negara yang pada akhirnya melakukan lockdown dan pembatasan sosial, berakibat pada terganggunya aktivitas masyarakat. Banyaknya karyawan yang di PHK, kerja di rumah dan sekolah online, selain itu banyak pedagang-pedagang kecil yang dagangannya tidak laku merupakan dampak yang ditimbulkan dari adanya wabah ini..

Virus Corona - Alodokter
Orang Memakai Masker. Source : Alodokter

Virus Corona global di ketahui sampai tanggal 15 September 2021 mencapai 226.687.133 kasus dengan angka kematian mencapai 4.663.332 korban. Nah, di Indonesia sendiri sudah mencapai 4.178.164 korban, 3.953.519 di nyatakan sembuh dan 139.682 di antaranya meninggal dunia.

Pada artikel ini sedikit mengingatkan bagaimana kronologi awal terjadinya wabah virus Covid 19 yang pertama kali terjadi di Wuhan, China. Di mana akan menjadi pandemi hingga saat ini. Banyak negara yang harus melakukan pembatasan sosial hingga lockdown yang mengakibatkan perekonomian suatu negara menurun.

Sekilas Tentang Virus Covid 19

Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Penderita Covid 19 dapat terjadi gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang cukup berat, hingga berujung pada kematian. SARS-CoV 2 merupakan jenis baru dari coronavirus yang menyerang siapa saja, mulai dari lansia, orang dewasa, anak-anak dan bayi termasuk di antaranya terdapat ibu hamil dan menyusui.

Pada awal perkembangannya, virus SARS-CoV-2 ini di duga kuat berasal dari rekombinasi dari virus RaTG13 atau virus Corona yang ada pada beberapa spesies kelelawar. Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, bisa juga menyebabkan infeksi pernapasan berat, contohnya infeksi paru-paru (pneumonia). Virus ini mampu menular dari manusia ke manusia melalui percikan dahak (droplet) dari saluran pernapasan. Misalnya ketika anda berada di suatu ruang tertutup yang ramai dengan sirkulasi udara yang kurang baik atau kontak langsung dengan si droplet tersebut.

Virus corona pada manusia pertama kali di temukan pada tahun 1960 silam dalam hidung pasien yang terkena flu biasa (common cold). Alasan di beri nama virus Corona karena itu berdasarkan struktur yang mirip mahkota di permukaannya. “Corona” dalam bahasa Latin berarti “halo” atau “mahkota”. Menurut hellosehat.com sebenarnya ada dua coronavirus bertanggung jawab atas terjadinya sebagian flu biasa pada manusia.

Untuk penyakit SARS, MERS, dan COVID-19 yang saat ini menjadi pandemi itu di sebabkan oleh tipe coronavirus lain, bukan dari 2 jenis tersebut. Coronavirus merupakan virus zoonosis, artinya virus ini mampu menyebar dari hewan ke manusia. Mulanya virus ini di kenal sebagai novel coronavirus 2019 (2019-nCoV). Setelah melewati berbagai pengamatan dan penelitian, 2019-nCoV secara resmi berganti nama menjadi SARS-CoV-2. SARS-CoV-2 penyebab Covid 19 di curigai menular dari hewan kelelawar dan ular ke manusia. Tetapi akhir Januari, virus ini juga telah di konfirmasi menular dari manusia ke manusia.

Awal Mula Virus Corona Bermunculan

blank
Source: Hellosehat.com

Awalnya virus Corona ini pertama kali muncul di kota Wuhan, provinsi Hebei, China. Menurut sebuah penelusuran, korban positif pertama Covid 19 di duga kuat terjadi pada tanggal 17 November 2019 lalu. Yaitu seorang pria berusia 55 tahun asal provinsi Hebei.

Sejak tanggal itu dan seterusnya, satu hingga lima kasus baru di laporkan setiap harinya. Pada 15 Desember 2019, jumlah total yang terinfeksi mencapai 27 orang. Peningkatan dua digit orang terinfeksi pertama kali dilaporkan pada 17 Desember dan pada 20 Desember. Jumlah total kasus yang dikonfirmasi waktu itu sudah mencapai 60 orang.

Para dokter di China baru menyadari bahwa mereka sedang menghadapi penyakit yang benar-benar baru pada akhir Desember. Para ilmuwan baru memetakan pola penularan awal Covid 19 di China tengah pada Januari, dua bulan sebelum wabah ini menjadi krisis kesehatan global. Mencari tahu kasus yang tidak terdeteksi dan tidak terdokumentasi menjadi penting untuk memahami bagaimana penyakit ini menyebar dan akan meningkatkan pemahaman para ilmuwan tentang ukuran ancaman dari virus corona.

Menurut CSSE di Universitas Johns Hopkins kasus pertama di temukan di antara para penjaja kios di Pasar Makanan Laut Cina Selatan, Wuhan. Penyintas pertama tersebut menunjukkan gejala pada 8 Desember 2019. Di mana pasar tersebut akhirnya di tutup pada 1 Januari 2020. WHO pun pernah menyatakan bahwa kemungkinan, hewan menjadi sumber utama dari virus ini. Namun, beberapa penularan secara terbatas antara manusia bisa terjadi dengan kontak dekat.

Ada kemungkinan kasus datang lebih awal namun tidak terlacak dalam dokumen yang dipelajari oleh SCMP. Menurut laman WHO, kasus Covid 19 pertama yang di konfirmasi di China terjadi pada 8 Desember 2019, namun WHO tidak melacak secara detil melainkan hanya bergantung dari suplai informasi negara-negara anggotanya.

Penelitian Awal Virus Corona di Berbagai Negara

1,5 tahun ini kita di hadapkan dengan virus Covid 19 yang hingga kini masih menjadi pandemi yang cukup mengkhawatirkan. Di awal-awal pandemi ini, banyak yang menduga bahwa kota Wuhan lah awal mula virus ini berasal. Namun banyak negara yang melakukan serangkaian penelitian tentang kasus awal Covid 19 di negaranya. Salah satunya adalah Amerika Serikat. Sebuah penelitian mengungkap bahwa virus corona menginfeksi orang-orang di AS pada awal Desember 2019 sebelum orang pertama terkonfirmasi positif pada 15 Januari 2020.

Lain hal dengan Italia, di mana ada kemungkinan sudah beredar virus Corona sejak September 2019 menurut studi yang di lakukan INT di Milan. WHO menyebutkan, keberadaan virus corona jenis baru ini tidak di ketahui sebelum wabah di laporkan di Wuhan, China, pada akhir 2019 lalu. Namun, virus ini bisa saja telah menyebar secara diam-diam ke tempat lain.

Di Spanyol justru lebih awal lagi ketimbang 2 negara barusan. Ahli virologi Spanyol menunjukkan bahwa jejak virus corona dalam sampel air limbah Barcelona yang di kumpulkan pada Maret 2019. Penemuan genom virus yang sangat awal di Spanyol mungkin saja infeksi virus corona telah muncul awal dari yang di perkirakan. Tim peneliti dari Barcelona University telah menguji air limbah sejak pertengahan April tahun 2020 untuk mengidentifikai potensi wabah baru, memutuskan untuk melakukan tes pada sampel yang lebih tua dari ini.

Pada dasarnya sih ini terlalu dini untuk membuat kesimpulan pasti apakah virus Covid 19 sudah benar-benar terjadi sebelum kasus pertama di Wuhan, China.

China Dinilai Lambat Dalam Menangani Ini

Sebelum virus Corona ramai di ketahui banyak orang, dokter Li Weiliang memang sudah mengkonfirmasikan keberadaan virus ini. Dia memberikan pesan yang mengejutkan di grup alumni sekolah kedokterannya melalui aplikasi pesan singkat WeChat. dia menuturkan bahwa menurut sebuah tes yang telah dia lihat, bahwa penyakit itu adalah virus corona. Hal ini ternyata masih satu keluarga dengan virus sindrom pernapasan akut (SARS).

Untuk di ketahui bahwa Li adalah seorang dokter berusia 34 tahun yang bekerja di Wuhan, kota yang menjadi pusat penyebaran virus corona di China. Li mengatakan kepada teman-temannya untuk mengingatkan orang-orang yang mereka cintai akan bahayanya virus ini. Dan apa yang di katakan Li pun benar terjadi hingga saat ini yaitu yang kita kenal sebagai Covid 19. Li pun meninggal pada 6 Februari 2020 karena infeksi.

Pemerintah saat itu bungkam, diam, dan lambat dalam mengatasi isu ini. Salah satu hal yang membuktikannya yaitu dengan di panggilnya dokter Li dan beberapa petugas kesehatan lainnya dengan tuduhan menyebarkan isu. Usai dipanggil pihak kepolisian China, Li harus menandatangani pernyataan untuk mengakui kesalahan. Dan dia di haruskan berjanji untuk tidak melakukan tindakan melanggar hukum lebih lanjut.

Saat itu, Banyak di antara netizen memikirkan peringatan dini yang di sebarkan dari delapan orang tersebut mampu menyelamatkan ratusan nyawa. Pada saat kemarahan publik tengah meningkat, Mahkamah Agung China pada 28 Januari, mengkritik polisi Wuhan karena menghukum para ‘pembuat isu’.

Hingga pada akhir Januari, keterlambatan penanganan wabah oleh pemerintah Wuhan mulai di pahami di China. Di mana presiden XI Jinping memerintahkan upaya tegas untuk menghentikan penyebaran virus corona dan menekankan perlunya keterbukaan informasi yang tepat waktu. Itu adalah pertama kalinya Xi berbicara secara terbuka dalam menangani wabah corona. Seruan Xi untuk merilis informasi yang tepat waktu dipandang sebagai lampu hijau untuk melaporkan virus corona.

Beginilah Kronologi Kejadian Covid 19

Berikut ini adalah daftar kasus di awal-awal terjadinya pandemi Covid 19:

17 November 2019: Manusia pertama yang di duga positif virus Corona.

8 Desember 2019: menurut WHO, kasus Covid 19 pertama yang di konfirmasi di China terjadi pada 8 Desember 2019

31 Desember 2019: Komisi Kesehatan Publik Wuhan melaporkan sebuah wabah penyakit mirip pneumonia merebak dengan 27 kasus di pastikan positif. Pemerintah kemudian mengungkap gejala awal virus ini sudah muncul sejak awal Desember, terutama di sekitar Pasar Makanan Laut di daerah Huanan, Wuhan.

9 Januari 2020: Para ilmuwan mengidentifikasi sebuah virus baru sebagai penyebab wabah penyakit ini. Penularannya di sebabkan virus corona jenis baru. Virus corona bisa menulari baik hewan dan manusia, tapi jenis baru ini belum di identifikasi menulari antar manusia.

12 Januari 2020: Pemerintah China mengumumkan kematian seorang pria 61 tahun dari Wuhan yang terjangkit virus corona tiga hari sebelumnya.

13 Januari 2020: Kasus pertama di luar negeri tercatat di Thailand.

16 Januari 2020: Kasus serupa mulai terjadi di Jepang.

20 Januari 2020: Virus corona menyebar. Dua pasien lagi terbukti positif di luar China, yaitu di Korea Selatan dan Taiwan. Di hari yang sama, jumlah kasus di China tercatat ada sebanyak 278 kasus

21 Januari 2020: Amerika Serikat mengumumkan kasus pertama, seorang pria berusia 30-an tahun dari Negara Bagian Washington, di mana waktu itu dia baru pulang dari Wuhan. Di hari yang sama di China kasus meningkat menjadi 326 orang penderita.

22 Januari 2020: China mengatakan virus ini mampu beradaptasi dan bermutasi. Orang asing kedua terinfeksi di China, yaitu seorang warga Thailand. Jumlahnya saat itu ada empat kasus di Thailand. Saat itu, jumlah orang yang positif di China meningkat kembali yakni menjadi 547 orang.

23 Januari 2020: Mulailah China mengumumkan tiga kota di karantina, ada sekitar 20 juta warga di larang keluar. saat itu kembali meningkat kasus yang positif yakni menjadi 639 kasus.

24 Januari 2020: jumlah tersebut meningkat kembali menjadi 916 kasus. Di hari itu, kota Huanggang, Ezhou dan kota-kota yang berdekatan dengan Wuhan mulai di karantina. Di susul dengan beberapa kota lain di China.

25 Januari 2020: Dokter Liang Wudong (62) yang bertugas di Rumah Sakit Hubei Xinhua Wuhan, juga di kabarkan meninggal dunia karena virus corona. Informasi itu di sampaikan lewat pemberitaan stasiun televisi China Global Television Network. Di hari yang sama, jumlah kasus melonjak tajam, yakni menjadi 2.000 kasus.

25 Januari 2020: Banyak perayaan dan festival di berbagai kota di China terpaksa di batalkan. Di hari yang sama pemerintah Malaysia pun mengumumkan empat orang warganya terinfeksi virus corona.

26 Januari 2020: 56 orang meninggal di China karena virus corona. Di mana lebih dari 2000 lainnya terinfeksi.

27 Januari 2020: Kasus di China meningkat menjadi 2.700 orang di mana korban meninggal bertambah menjadi 80 orang di dunia.

1 Februari 2020: Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mengumumkan peraturan baru yang menyatakan korban Covid-19 harus dikremasi di fasilitas terdekat segera, dan tidak boleh diadakan upacara ataupun aktivitas pemakaman. Di hari yang sama, Jepang mulai melarang masuk orang Tiongkok dengan paspor yang di keluarkan di provinsi Hubei.

2 Februari 2020: Indonesia akhirnya menghentikan penerbangan dari Tiongkok sejak tanggal 5 Februari 2020. WNI saat itu tidak di anjurkan untuk pergi ke Tiongkok. Pemerintah juga mengevakuasi 243 WNI dari provinsi Hubei. Mereka di karantina di Kepulauan Natuna, walaupun mendapat tentangan dari warga. Mereka di izinkan pulang tanpa di tes, setelah melalui pengamatan dan tidak menunjukkan gejala-gejala akan tertular.

4 Februari 2020: Belgia mengumumkan kasus pertama Covid 19, di susul oleh Singapura yang mengumumkan 6 kasus pertamanya, termasuk di antaranya 1 orang WNI.

8 Februari 2020: Rumah sakit darurat Leishenshan mulai beroperasi setelah di bangun kurang dari 2 minggu sebelumnya.

11 Februari 2020: WHO memberi nama virus Corona ini sebagai Covid 19.

12 Februari 2020: WHO menyatakan bahwa vaksin coronavirus baru tersedia 18 bulan lagi.

19 Februari 2020: Iran mengumumkan 2 orang pertama di nyatakan positif Covid 19 di Qom, dan keduanya pun meninggal.

26 Februari 2020: WHO melaporkan bahwa jumlah kasus di luar Tiongkok sudah melebihi jumlah kasus di Tiongkok, seiring dengan meningkatnya jumlah kasus di Italia, Iran, dan Korea Selatan.

2 Maret 2020: Indonesia mengumumkan 2 kasus pertama Covid 19 di kota Depok.

Kasus Covid-19 Di Indonesia

Covid 19 mulai terjadi di Indonesia semenjak 2 Maret 2020 silam di mana 2 orang depok menjadi pasien pertama yang terpapar Covid 19. Semenjak hari itu, pemerintah mulai menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk menangani masalah pandemi Covid 19 ini. Sampai tanggal 31 Maret 2020, jumlah korban positif Covid 19 mencapai 1.528 orang dengan 81 orang sembuh dan 136 orang meninggal dunia.

Setiap hari semakin bertambah jumlah korban positif covid 19 dan hingga 17 September 2021 jumlah korban mencapai 4.185.144 orang dengan 3.976.064 di antaranya sembuh dan korban yang meninggal mencapai 140.138 orang. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari 15 negara dengan korban terpapar Covid 19 terbesar di dunia. Memang cukup mengkhawatirkan melihat banyaknya korban yang terpapar Covid 19 ini. Seperti pada gambar di bawah ini :

blank
Korban Positif Covid 19, Korban Sembuh Dan Korban Meninggal Dunia. Source : Covid19.go.id

Berbagai cara dan upaya pemerintah Indonesia dalam menanggulangi pandemi Covid 19 ini. Mulai dari pembelajaran secara online, dan kerja dari rumah (WFH). Selain itu pemerintah juga menghimbau agar mengurangi aktivitas di luar rumah, memakai masker, jaga jarak, selalu mencuci tangan dan menggunakan Hand Sanitizer setiap selesai beraktifitas. Pemerintah juga memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, hingga PPKM level 1 – 4 yang saat ini diterapkan di seluruh Indonesia. Di Indonesia sendiri saat ini masih melakukan vaksinasi terhadap warganya, di mana gambar di bawah ini merupakan update sampai tanggal 17 September 2021 :

blank
Update Data Vaksinasi Covid 19 Sampai 17 September 2021. Source : Covid19.go.id

Di bawah ini merupakan perkembangan daerah di Indonesia yang masih menerapkan PPKM level 1 sampai 4 per tanggal 14 – 20 September 2021. Terlihat bahwa hanya 3 daerah saja di pulau Jawa yang masih menerapkan PPKM level 4. Selebihnya hanya menerapkan PPKM level 3 yang berjumlah 82 daerah dan 43 daerah sisanya menerapkan PPKM level 2.

blank
Daerah Jawa dan Bali Yang Masih Menerapkan PPKM.

Sedangkan di bawah ini merupakan pemberlakuan PPKM di luar pulau Jawa dan Bali per tanggal 7 – 20 September 2021. Di mana sebagian besar daerah itu masih menerapkan PPKM level 2 dan 3 di bandingkan dengan daerah yang menerapkan level 1 dan 4.

blank
PPKM di luar pulau Jawa dan Bali.

Beginilah Kondisi Singkat Dunia Saat Ini

Beberapa bulan ke belakang memang di beberapa negara masih menangani Covid 19 yang semakin mengganas salah satunya di Indonesia. Ini di akibatkan karena Covid 19 bermutasi menjadi beberapa varian, di mana yang terparah adalah varian Delta yang 60 % lebih menular. Varian Delta ini berasal dari India.

Di beberapa negara memang sudah berhasil menangani kasus Covid 19, di mana sudah banyak warga yang tidak memakai masker ketika beraktifitas. Banyak kegiatan dan festival di laksanakan secara normal. Olimpiade Tokyo 2020 dan Euro 2020 pun akhirnya bisa di laksanakan di awal semester 2 tahun 2021 ini. Setelah sebelumnya di undur karena pandemi Covid 19 meskipun harus menerapkan protokol kesehatan ketat.

Berbagai sekolah dan Universitas di indonesia pun sudah mulai menggelar pembelajaran tatap muka pada September 2021 ini walaupun secara terbatas dan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat. Namun masih ada juga beberapa sekolah dan universitas yang masih menerapkan belajar online.

Tanda-Tanda Seseorang Terinfeksi Virus Corona

Pada dasarnya sih penyebab seseorang terinfeksi Virus Corona itu berbeda-beda. Biasanya gejalanya itu bergantung dengan jenis virus itu dan seberapa serius infeksinya. Secara umum, ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:

  • Demam (suhu tubuh biasanya di atas 38 derajat Celsius)
  • Batuk kering
  • Sesak napas

Selain itu, terdapat beberapa gejala lain yang juga bisa muncul pada infeksi virus Covid 19 meskipun itu lebih jarang, yaitu:

  • Diare
  • Sakit kepala
  • Konjungtivitis
  • Hilangnya kemampuan mengecap rasa apapun
  • Hilangnya kemampuan untuk mencium bau apapun atau anosmia
  • Ruam di kulit

Gejala-gejala COVID-19 ini umumnya muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah penderita terpapar virus Corona. Beberapa pasien yang terinfeksi virus Corona ada yang mengalami penurunan oksigen tanpa adanya gejala apapun. Kondisi ini di sebut dengan happy hypoxia. Adapun para ahli meyakini bahwa COVID-19 dapat menular dari orang ke orang melalui droplet dan udara. Ini alasannya kenapa virus ini juga di sebut sebagai virus SARS-CoV-2. Secara umum, penularan coronavirus terjadi melalui:

  • Melalui udara (virus keluar dari mereka yang batuk dan bersin tanpa menutup mulut).
  • Sentuhan atau jabat tangan dengan pasien positif.
  • Menyentuh permukaan benda yang terdapat virus kemudian menyentuh wajah (hidung, mata, dan mulut) tanpa mencuci tangan.

Bagaimana Cara Menghindarinya

Indonesia sudah melakukan berbagai cara terbaik termasuk di antaranya melakukan vaksinasi. Meskipun begitu ada berbagai cara pencegahan lainnya agar tidak terinfeksi virus Covid 19 ini, yaitu :

  1. Menerapkan physical distancing minimal 1 – 2 meter dari orang lain, dan sebaiknya jangan ke luar rumah kecuali ada keperluan yang mendesak.
  2. Gunakanlah masker saat beraktivitas di tempat umum.
  3. Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau dengan hand sanitizer, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau berada di tempat umum.
  4. Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung anda sebelum mencuci tangan.
  5. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi berbagai makanan bergizi, berolahraga secara rutin, berjemur, beristirahat yang cukup, dan menhindari stres.
  6. Hindari kontak dengan penderita COVID-19, atau orang yang di curigai positif, atau orang yang sedang sakit demam, batuk, atau pilek.
  7. Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buanglah ke tempat sampah.
  8. Jaga kebersihan benda yang sering di sentuh dan kebersihan lingkungan sekitar.

Bagaimana jika anda positif Covid-19 ?

Anda harus tenang inilah yang harus di lakukan jika anda positif Covid 19 :

  1. Lakukan isolasi mandiri dengan cara tinggal terpisah dari orang lain atau keluarga untuk sementara waktu. Bila tidak memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar mandi yang berbeda dengan yang di gunakan oleh keluarga anda.
  2. Sebisa mungkin janganlah berbagi penggunaan alat makan dan minum, alat mandi, serta perlengkapan tidur dengan orang lain.
  3. Sebaiknya jangan keluar rumah, kecuali jika untuk mendapatkan pengobatan.
  4. Mengonsumsi vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh dan kombinasikan dengan vitamin A, E, D, serta B kompleks.
  5. Bila ingin ke rumah sakit saat gejala bertambah berat, sebaiknya anda menghubungi dulu pihak rumah sakit untuk menjemput anda.
  6. Laranglah orang lain untuk mengunjungi atau menjenguk Anda sampai Anda benar-benar sembuh dari Covid 19.
  7. Sebisa mungkin anda jangan melakukan pertemuan dengan orang yang sedang sakit.
  8. Gunakanlah masker dan sarung tangan bila sedang berada di tempat umum atau sedang bersama orang lain.
  9. Gunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung anda bila sedang batuk atau bersin, lalu segeralah buang tisu ke tempat sampah.
  10. Minumlah obat flu, pereda nyeri, dan demam yang di sarankan dokter seperti paracetamol atau ibuprofen.
  11. Gunakan pelembap ruangan atau mandi dengan air panas untuk melegakan sakit tenggorokan dan batuk.
  12. Jika Anda mengalami sakit ringan, Anda perlu banyak menambah asupan cairan melalui air putih dan makanan berkuah dan bernutrisi.

Berapa Lama Coronavirus Bertahan di Permukaan Benda ?

Nah, kita perlu tahu juga nih berapa lamakah Coronavirus dapat bertahan di permukaan benda. Coronavirus memiliki waktu bertahan yang berbeda di setiap bendanya. Benda seperti apa sih?

Jenis Benda

Logam

Gelas

Keramik

Kertas

Kayu

Plastik

Stainless Stell

Kardus

Alumunium

Tembaga

Contoh

Gagang Pintu, Sendok, Garpu

Gelas, Cermin, Kaca Jendela

Gelas Mug, Piring

Koran, Majalah, Buku

Furniture, Hiasan Kayu

Kantong Kresek, Botol Susu

Kulkas, Panci Penggorengan

Kotak Paket

Kareng Soda

Ceret Teh, Uang Koin

Satuan Waktu

5 Hari

Hingga 5 Hari

5 Hari

Hingga 5 Hari

4 Hari

2 – 3 Hari

2 – 3 Hari

1 Hari

2 – 8 Jam

4 Jam

Untuk itu kita jangan sembarangan memegang suatu benda. Dan itulah alasan kenapa kita harus tetap mencuci tangan dan memakai Hand Sanitizer supaya kita dapat menghindari terpaparnya virus Covid 19.

Penutup

Virus Covid 19 memang sudah menjadi permasalahan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Ini sudah menjadi suatu tugas bagi kita semua untuk menanggulangi pandemi Covid 19 ini supaya aktivitas kita kembali normal. Dengan melakukan 3M : Mencuci tangan, Menjaga jarak dan Memakai masker serta melakukan apa yang tertera di atas, Inshaallah kita dapat mengurangi angka positif Covid 19 khususnya di Indonesia.

Meskipun kita sudah di vaksin namun kita harus perlu menjaga kesehatan kita agar kita tidak terpapar Covid 19. Mungkin segitu saja yang penulis sampaikan. Mohon maaf bila penulis masih ada kekurangan dalam penyampaian artikel ini. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Sumber

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Rachmat Arief Murditanto
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *