Aktivitas pertambangan emas tidak pernah lepas dari mesin diesel yang bekerja siang dan malam. Truk angkut yang membawa batuan dari lubang tambang ke tempat pengolahan menjadi tulang punggung operasi, terutama di tambang emas berskala kecil dan menengah. Namun di balik perannya yang krusial, kendaraan ini juga menyumbang emisi karbon dioksida dalam jumlah besar yang berdampak langsung pada perubahan iklim.
Kesadaran global terhadap krisis iklim mendorong industri tambang untuk mulai menghitung dan menekan jejak karbonnya. Masalahnya, banyak tambang kecil masih kesulitan memperkirakan berapa besar emisi yang mereka hasilkan. Perhitungan emisi sering kali bersifat kasar, berbasis laporan tahunan, dan tidak mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya. Di sinilah riset terbaru tentang pengembangan fungsi emisi karbon dioksida untuk penggunaan solar dalam operasi angkut tambang emas menjadi sangat penting.
Baca juga artikel tentang: Jangan-jangan Gorengan yang Anda Beli Mengandung Plastik
Penelitian ini berangkat dari pertanyaan sederhana. Bagaimana cara menghitung emisi karbon secara akurat, cepat, dan mudah diterapkan di tambang yang teknologinya masih terbatas. Para peneliti kemudian mengembangkan sebuah fungsi matematis yang mampu memperkirakan emisi karbon dioksida berdasarkan konsumsi bahan bakar solar dalam operasi pengangkutan.
Studi ini mengambil lokasi di sebuah tambang emas di Brasil yang mewakili karakteristik tambang skala kecil dan menengah. Tambang jenis ini umum ditemukan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Armada truknya tidak selalu baru, sistem pemantauan masih sederhana, dan pengelolaan data sering kali belum terintegrasi secara digital.
Para peneliti menggabungkan data operasional nyata seperti jumlah bahan bakar yang digunakan, jarak angkut, beban material, dan efisiensi operator dengan metode pemodelan statistik modern. Pendekatan ini memungkinkan estimasi emisi karbon secara mendekati kondisi lapangan, bukan sekadar angka teoritis.

Hasilnya cukup mengejutkan. Perhitungan menggunakan fungsi emisi yang dikembangkan menghasilkan estimasi emisi sebesar 510 ton setara karbon dioksida dalam satu tahun operasi. Angka ini sangat dekat dengan laporan resmi perusahaan yang mencatat 523 ton. Tingkat akurasinya mencapai 97 persen, sebuah capaian yang sangat tinggi untuk model prediksi di sektor pertambangan.
Keunggulan utama pendekatan ini terletak pada kemampuannya bekerja dengan data sederhana. Tambang tidak perlu memasang sensor canggih atau sistem pemantauan mahal. Selama data konsumsi solar dan parameter dasar operasi tersedia, fungsi ini dapat langsung digunakan untuk menghitung emisi.
Penelitian ini juga mengungkap faktor apa saja yang paling memengaruhi besarnya emisi karbon di operasi angkut. Analisis menunjukkan bahwa efisiensi operator truk memegang peranan penting. Cara mengemudi, kebiasaan akselerasi, dan waktu berhenti mesin berkontribusi besar terhadap konsumsi bahan bakar.
Manajemen armada juga menjadi faktor kunci. Jadwal perawatan yang buruk, pemilihan rute yang tidak optimal, dan penggunaan kendaraan yang tidak sesuai kapasitas meningkatkan pemborosan bahan bakar. Selain itu, cara pengelolaan material angkut seperti kepadatan muatan dan frekuensi perjalanan turut menentukan besarnya emisi.

Dari simulasi yang dilakukan, para peneliti memperkirakan bahwa perbaikan efisiensi operator dapat menurunkan emisi karbon sekitar 15 hingga 20 persen. Optimalisasi manajemen armada mampu memangkas emisi hingga 25 persen, sementara perbaikan pengelolaan material bahkan berpotensi menurunkan emisi hingga 30 persen. Angka ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku dan manajemen bisa memberi dampak besar tanpa harus mengganti teknologi secara drastis.
Untuk memastikan keandalan model, peneliti menggunakan dua pendekatan pemodelan yang berbeda. Pendekatan pertama menggunakan metode regresi statistik yang umum dipakai dalam analisis industri. Pendekatan kedua menggunakan kecerdasan buatan berbasis random forest. Kedua metode menunjukkan hasil yang konsisten dan akurat, bahkan dalam kondisi data yang bervariasi.
Model ini juga terbukti stabil ketika diuji pada kondisi operasional yang berubah, misalnya saat volume produksi meningkat atau ketika rute angkut mengalami perubahan. Stabilitas ini penting karena operasi tambang bersifat dinamis dan jarang berjalan dalam kondisi yang benar-benar konstan.
Dampak praktis dari penelitian ini sangat luas. Bagi perusahaan tambang, fungsi emisi ini dapat menjadi alat bantu pengambilan keputusan. Manajemen dapat melihat langsung bagaimana perubahan operasional memengaruhi emisi karbon dan memilih strategi yang paling efektif untuk menurunkannya.
Bagi regulator dan pemerintah, metode ini menawarkan cara yang lebih transparan untuk memverifikasi laporan emisi dari perusahaan tambang. Data emisi tidak lagi hanya menjadi angka di atas kertas, tetapi hasil perhitungan yang dapat ditelusuri dan diuji.
Dari sudut pandang lingkungan, pendekatan ini membantu tambang skala kecil berkontribusi dalam upaya global menekan perubahan iklim. Selama ini, perhatian sering tertuju pada tambang besar dengan teknologi tinggi. Padahal, secara kolektif, tambang kecil menyumbang emisi yang tidak sedikit.
Penelitian ini juga membuka peluang integrasi dengan sistem keberlanjutan yang lebih luas. Fungsi emisi karbon dapat dikombinasikan dengan perencanaan tambang, evaluasi biaya operasional, dan strategi transisi energi. Tambang dapat merancang langkah bertahap menuju penggunaan bahan bakar yang lebih bersih atau kendaraan listrik dengan dasar data yang kuat.
Lebih jauh lagi, pendekatan berbasis data ini mendorong perubahan budaya kerja di sektor pertambangan. Operator dan manajer menjadi lebih sadar bahwa tindakan sehari-hari mereka berdampak langsung pada lingkungan. Kesadaran ini menjadi fondasi penting bagi praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab.
Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa solusi iklim tidak selalu harus mahal atau rumit. Dengan memahami data yang sudah ada dan mengolahnya secara cerdas, industri tambang dapat mengambil langkah nyata untuk mengurangi emisi karbon. Truk diesel mungkin masih akan digunakan dalam waktu dekat, tetapi cara kita mengelolanya dapat membuat perbedaan besar bagi masa depan lingkungan.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Gonzales, Gaby Gabriela Galindo dkk. 2025. CO2 Emission Function Development for Diesel Usage in Gold Mining Haulage Operations. Greenhouse Gases: Science and Technology, e2366.

