Pilihan Editor

PT PAL Kembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Laut

PT PAL Indonesia dan Thorcon Internasional Pte Ltd bekerja sama mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan kapasitas listrik 500 Megawatt (MW). Rencananya pembangkit ini akan dibangun dengan menggunakan desain struktur kapal, sehingga bisa dioperasikan di laut. Baca juga: Keunggulan…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email
Dengarkan Artikel
0%

Siap diputar.

PT PAL Indonesia dan Thorcon Internasional Pte Ltd bekerja sama mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan kapasitas listrik 500 Megawatt (MW). Rencananya pembangkit ini akan dibangun dengan menggunakan desain struktur kapal, sehingga bisa dioperasikan di laut.

Baca juga: Keunggulan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Terapung Untuk Indonesia 

Direktur Rekayasa Umum, Pemeliharaan dan Perbaikan PT PAL Sutrisno mengatakan, saat ini pihaknya tengah merampungkan desain pembangkit. Namun, dapat dipastikan pada 2020 sudah mulai memasuki tahap konstruksi. Sehingga pada 2026 bisa beroperasi secara komersial (commercial on date/ COD).

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri 

Opsi wilayah yang akan mendapat pasokan listrik dari pembangkit ini adalah Pulau Bangka, Kalimantan Barat, dan Riau. “Kami akan uji dulu tanpa nuklir, lalu minta kepastian dari pemerintah. Bila lolos uji, pada 2020 sudah harus dibangun,” ujarnya, saat ditemui di Jakarta, Rabu (17/7).

Baca juga: Menjadikan Energi Nuklir “Terbarukan”: Ekstraksi Uranium Dari Air Laut

Adapun nantinya PLTN ini akan berada di atas kapal yang memiliki panjang 174 meter dan lebar 66 meter, atau setara dengan tanker kelas Panamax, yang akan dibuat oleh Daewoo Shipyard and Marine Engineering (DSME) di Korea Selatan. Untuk reaktor dan komponen pendukung lainnya dibuat oleh PT PAL.

Baca juga: Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Domestik 

Chief Representative Thorcon Bob S Effendi menilai PLTN yang dibangun di laut ini dapat menghindari pekerjaan sipil yang lebih banyak. Kedua, masalah pengadaan lahan untuk pembangunan infrastruktur pembangkit kerap jadi masalah, sehingga waktu pembangunan menjadi molor. Ketiga, pengoperasian yang jauh dari masyarakat akan lebih mudah diterima.

Baca juga: Menjadikan Energi Nuklir “Terbarukan”: Metode Ekstraksi Uranium Dari Air Laut 

“PLTU saja bisa sampai enam tahun pembebasan lahannya. Kami juga belum tau dari sisi penerimaann masyarakat akan seperti apa,” kata dia. Untuk membangun proyek ini membutuhkan dana investasi sebesar US$ 1,2 miliar atau setara dengan Rp 17 triliun. Namun, Bob memastikan tarif listrik yang dihasilkan lebih murah yaitu sekitar tiga sen per kilowatt hour (kWh).

Baca juga: Mengganti Energi Nuklir Dengan Energi Terbarukan Bukan Ide Bagus

Bob menjelaskan bahwa bahan baku tenaga listrik tersebut berasal dari thorium atau limbah yang dihasilkan dari timah. Sehingga bisa dipastikan modal operasionalnya lebih murah. Selain itu, pembangkit ini berbeda dengan PLTN konvensional lainnya. Pasalnya, PLTN tersebut menggunakan teknologi Thorium Molten Salt Reactor, sehingga aman untuk dioperasikan, bahkan ketika ada bencana alam yang melanda.

Baca juga:

PLTN juga tidak memiliki isu mengenai limbah. Karena limbah yang dihasilkan sangat sedikit sekali. Ia mengibaratkan limbah yang dihasilkan dari PLTN hanya secangkir dari limbah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang membutuhkan tanah 10 hektare untuk menyimpan limbahnya. “Nuklir sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Nuklir satu-satunya kelistrikan yang bisa meng-handle limbahnya,” ujarnya.

Baca juga:

Artikel ini disadur dari katadata.co.id, diakses pada tanggal 20 Juli 2019

Warung Sains Teknologi
TENTANG PENULIS

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung…▧ Carousel

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung jawab antarwilayah.…

Congratulations! JOKOWI sudah terindeks Google! Scopus nggak sih habis ini? #jurnal #jokowi

Congratulations! JOKOWI sudah terindeks Google! Scopus nggak sih habis ini? #jurnal #jokowi