Apa itu Isobologram? Definisi dan Penjelasan Singkat

blank

Salah satu terapi yang paling sering kita jumpai dalam dunia pengobatan adalah terapi kombinasi obat. Sederhananya, jika obat A digunakan secara bersamaan dengan obat B maka dapat memunculkan efek sinergis (saling menguatkan) atau efek inhibisi (menghambat).

Dua jenis interaksi tersebut dibagi lagi dalam 2 model, yaitu allotopic model dan syntopic model. Berikut penjelasannya:

  • Allotopic model menggambarkan ketika dua jenis obat berikatan dalam satu waktu di satu enzim tetapi pada sisi enzim yang berbeda. Allotopic untuk menunjukkan sisi ikatan, allosteric sebuah istilah yang menggambarkan perubahan konformasi enzim akibat dari allotopic.
  • Syntopic model menggambarkan ketika obat yang berbeda memiliki tempat ikatan yang sama atau dikenal dengan interaksi kompetitif.

Kompleksnya manifestasi dari sebuah pengobatan. Dokter akan cenderung untuk meresepkan obat dalam bentuk kombinasi. Salah satu alat evaluasi yang digunakan untuk multiterapi adalah isobologram. Studi mengenai ini dapat diterapkan untuk pengembangan senyawa baru, pengembangan fix dose combination dan penyusunan pedoman pengobatan.

blank

Isobologram adalah salah satu model matematika untuk mengevaluasi kinerja obat dalam bentuk kombinasi. Perhitungan akan dilakukan setelah eksperimen, untuk menetukan interaksi obat tersebut masuk ke dalam kategori additive atau additif, sinergis atau antagonis.

blank
Gambar 1. Skema Isobologram Area Sinergis, Additif dan Antagonis.

Interaksi obat A:B tergambar dalam bentuk grafik koordinat dua dimensi atau tiga dimensi. Dimana setiap garis koordinat menggambarkan konsentrasi sebuah obat. DIbawah ini adalah contoh grafik dua dimensi.

blank
Gambar 2. Grafik Koordinat Dua Dimensi Isobologram

Pertama-tama terdapat dua garis koordinat sumbu X dan sumbu Y yang menggambarkan konsentrasi obat A dan B dalam pemberian terapi tunggal saat mencapai efek yang sama. Selanjutnya dua titik konsentrasi tersebut ditarik satu garis linear dari b ke a. Garis ini disebut garis additif. Setelah itu, dilakukan pengujian konsentrasi kombinasi kedua obat yang menunjukkan efek yang sama saat pemberian obat dalam dosis tunggal. Pengujian konsentrasi dapat dilakukan dengan menentukan konsentrasi salah satu obat, lalu variasi konsentrasi pada obat lai atau variasi konsentrasi pada keduanya dengan perbandingan yang sama. Setelah didapat konsentrasi yang memiliki efek yang sama, konsentrasi kombinasi tersebut di plot ke dalam koordinat pada grafik isobologram yang dibuat.

Evaluasi atau penilaian didasarkan pada letak titik terhadap garis additif. Apabila terletak dibawah garis additif maka ini jenis interaksi sinergis (saling menguatkan). Apabila letaknya diatas garis additif maka efek obat yang dihasilkan adalah antagonis. Jika, letaknya tepat pada garis additif maka peningkatan efek obat adalah akibat dari penambahan konsentrasi.

Ada yang menarik dalam studi literatur tentang isobologram ini, yaitu tentang phi-macology. Golden ratio memiliki daya tarik tersendiri di alam semesta. Nama phi sebagai turunan dari nama pematung Yunani, Phidias. Phi dapat dihubungkan dengan berbagai fenomena alam seperti frekuensi nukleotida dalam genom, model magnetik dari fisika kuantum dan filotaksis pada tanaman. Phi tersebut tergambar dalam matematika dan geometri. Pada 300 tahun sebelum Masehi, Euclid mendefinisikan penerapannya dalam sebuah garis (Gambar B). Tidak ada hubungan farmakologis dengan phi yang telah dijelaskan, namun muncul dalam model farmakologis yang paling sederhana, model persamaan Hill-Langmuir serta model allotopic dan syntopic dibawah ini. Tidak jelas apakah phi harus menjadi bagian dari pertanyaan dapatkah dua obat mengikat pada sisi yang sama? Hal tersebut tentu mengundang spekulasi lebih lanjut tentang efek biologis. Akan tetapi, apakah proses farmakologis sederhana dapat dijelaskan dengan munculnya phi dalam fenomena biologi masih harus diteliti lebih lanjut.

blank
blank
Gambar 3. Golden Ratio (A) Representasi Aritmatika dari Golden Ratio, (B) Representasi Geometri Euclid dari Golden Ratio, (C) Konsentrasi Hill-Langmuir-Respon kurva dimana Koefisien Hill=1, (D) Model Allotopic dan Syntopic, Hubungan antara Penghambatan Obat Channel Blocking yang Bekerja Sendirian dan Dipasangkan.

Sumber :

Ririn Pratiwi
Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar