Keluarga Artis dan Keluarga Politisi Itu Sudah Biasa, Ini Lho Keluarga Peraih Hadiah Nobel

Hadiah Nobel merupakan penghargaan internasional tahunan yang dianugerahkan bagi orang-orang yang berjasa di bidang Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, Perdamaian, dan Ilmu Ekonomi. Penghargaan yang diinisiasi oleh Alfred Nobel (selain bidang Ekonomi) pada tahun 1895 dan mulai diberikan sejak tahun 1901 tersebut hingga saat ini dipandang sebagai penghargaan tertinggi bagi sosok atau lembaga yang telah berjasa besar bagi peradaban umat manusia. Dalam proses pemilihan para pemenang, tidak ada batasan usia, jenis kelamin, ataupun kebangsaan sehingga setiap tahun pengumumannya selalu dinanti oleh banyak orang di seluruh dunia.

Selama lebih dari seabad penyelenggaraan, hadiah Nobel telah memunculkan banyak sosok yang luar biasa dengan profil yang sangat beragam. Salah satu hal yang unik adalah bahwa ada sejumlah pemenang hadiah Nobel yang memiliki hubungan keluarga. Ada yang komplit di mana sang suami, istri, anak, dan menantu menjadi pemenang, ada yang merupakan pasangan suami-istri, ayah-anak, dan ada juga yang merupakan dua bersaudara. Siapa saja mereka? Mari kita ulas satu per satu.

1. Keluarga Curie

Tentunya sudah banyak yang mengenal pasangan suami-istri Pierre dan Marie Curie. Ilmuwan dua sejoli berkebangsaan Prancis itu tercatat sebagai pasangan pertama yang dianugerahi hadiah Nobel, yaitu di bidang Fisika pada tahun 1903 (bersama Henri Becquerel). Hadiah diberikan atas jasa mereka dalam mengungkapkan fenomena radioaktivitas yang menjadi cikal bakal teknologi nuklir.

blank
Marie dan Pierre Curie, pasutri pertama peraih Nobel

Marie sendiri adalah wanita pertama yang dianugerahi hadiah Nobel sekaligus orang pertama (dan hingga kini wanita satu-satunya) yang dua kali mendapat hadiah dan merupakan orang pertama yang meraihnya dalam dua bidang yang berbeda. Pada tahun 1911, atas kontribusinya menemukan unsur radioaktif polonium dan radium, ia kembali mencatatkan namanya dalam daftar tetapi kali ini di bidang Kimia. Sayangnya, ia tidak lagi bersama suaminya karena Pierre meninggal pada tahun 1906 akibat kecelakaan tertabrak kereta kuda.

Torehan prestasi yang dicapainya itu tentu saja sangat luar biasa mengingat pada masa itu wanita sering dipandang sebelah mata dalam banyak hal, termasuk di bidang akademik. Apalagi ia adalah seorang imigran yang berasal dari Polandia. Perjuangannya dalam melanjutkan riset tanpa kehadiran sang suami, ditambah beban berat dalam membesarkan kedua putrinya, yaitu Irene dan Eve, semakin membuktikan ketangguhan wanita luar biasa ini. Untuk mengetahui kisah perjuangannya, bisa dilihat di artikel ini.

Kesuksesannya tidak cukup sampai di situ. Prestasi meraih Nobel kemudian diikuti oleh putri pertamanya, Irene Joliot-Curie bersama suaminya, Frederic Joliot. Keduanya dianugerahi hadiah Nobel Kimia pada tahun 1935 atas sumbangan penelitiannya yang berhasil mensintesis unsur radioaktif baru. Akan tetapi, keberhasilan mereka tidak sempat disaksikan oleh Marie karena ia telah meninggal setahun sebelumnya.

blank
Irene Joliot-Curie bersama suaminya, Frederic Joliot

Adapun putri kedua Pierre-Marie, yakni Eve Curie, tidak merintis karier sebagai ilmuwan karena lebih tertarik pada dunia tulis-menulis, jurnalistik, dan musik. Namun, suaminya yang bernama Henry Richardson Labouisse, Jr. (warga negara AS) melengkapi kesuksesan keluarga Curie dalam memboyong hadiah Nobel setelah ia menerima hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1965 di bawah bendera UNICEF. UNICEF merupakan organisasi bentukan PBB yang mengurusi kesejahteraan anak-anak, khususnya di negara-negara yang terlibat konflik dan negara dunia ketiga. Sebagai direktur eksekutif UNICEF saat itu, ia dipandang berjasa atas peran aktifnya mempererat hubungan antarnegara serta mempersempit jurang pemisah antara negara kaya dan miskin.

blank
Henry Labouisse, Jr.

Walaupun tidak mendapatkan hadiah Nobel, peran Eve Curie selama mendampingi suaminya berkeliling ke lebih dari 100 negara tentu saja tidak dapat dikesampingkan. Eve sendiri pernah menjabat sebagai direktur eksekutif UNICEF untuk Yunani dan aktif sebagai personel tentara Prancis ketika Perang Dunia ke-2 sebelum bertemu suaminya. Atas jasa-jasanya, ia mendapatkan medali kehormatan dari Pemerintah Prancis.

Kisah sukses keluarga Curie sebagai peraih hadiah Nobel terbanyak (total 6 hadiah) tentu saja menorehkan tinta emas dalam buku sejarah dunia. Prestasi gemilang yang mereka peroleh tersebut hingga kini belum dapat disamai oleh siapapun.

2. Joseph J. Thomson dan George P. Thomson

Siapa yang tidak mengenal Joseph Thomson, pencetus teori atom ‘roti kismis’ atau plum pudding? Fisikawan asal Inggris itu mengajukan model atom yang menyerupai roti kismis setelah percobaan tabung sinar katodanya berhasil menemukan partikel subatomik yang di kemudian hari diberi nama elektron. Dari penelitiannya itu, ia menyimpulkan bahwa elektron ada di setiap unsur, bermuatan negatif, dan bermassa lebih kecil dari atom hidrogen. Selain itu, ia juga mampu menghitung nilai perbandingan antara massa dan muatannya (massa dan muatan elektron baru dapat dihitung oleh Robert Millikan melalui percobaan tetes minyaknya yang terkenal).

Walaupun model atom Thomson masih memiliki banyak kelemahan, ia tetap dipandang berjasa dalam pengembangan teori atom karena ia mulai memperkenalkan struktur atom yang mengandung muatan listrik. Atas keberhasilannya menemukan elektron, ia pun mendapat hadiah Nobel Fisika pada tahun 1906.

Pada tahun 1937, anaknya yang bernama George Thomson juga sukses diganjar Nobel Fisika (berbagi dengan C.J. Davisson dari AS). Fakta yang menarik adalah bahwa penelitian George berhasil membuktikan bahwa elektron dapat juga berperilaku seperti gelombang. Kesimpulan itu diperoleh setelah ia mendapati bahwa pola difraksi pada kristal yang menggunakan berkas elektron sebagai sinar ternyata mirip dengan pola difraksi yang dihasilkan oleh cahaya. Hal ini berkebalikan dari apa yang telah dibuktikan oleh Ayahnya terdahulu bahwa elektron adalah partikel.

Jadi, apa yang telah mereka temukan bukanlah kontradiksi, melainkan ibarat dua sisi mata uang. Hasil eksperimen mereka menunjukkan apa yang disebut dengan fenomena dualisme sifat partikel-gelombang, sesuatu yang sangat fundamental di dalam pengembangan fisika kuantum. Sifat dualisme ini telah diprediksi sebelumnya oleh Louis de Broglie.

blank
Joseph dan George Thomson, ayah dan anak yang sama-sama menerima Nobel Fisika karena meneliti elektron

Selain sukses sebagai peneliti, Joseph Thomson juga dianggap sukses sebagai guru karena delapan orang asistennya berhasil mengikuti jejaknya sebagai peraih Nobel (6 Nobel Fisika dan 2 Nobel Kimia). Salah satunya adalah Ernest Rutherford yang berhasil membuktikan keberadaan inti atom dan partikel penyusun inti atom yang bermuatan positif, yaitu proton. Dari analisisnya, Rutherford lalu mengajukan model atom tata surya. Uniknya, model atom tersebut mematahkan model atom roti kismis milik Thomson, yang tidak lain adalah gurunya sendiri.

3. William Bragg dan Lawrence Bragg

Pasangan ayah-anak lain yang juga menjadi pemenang Nobel Fisika adalah William dan Lawrence Bragg. Bedanya, pasangan Thomson memenangkan Nobel di tahun yang berbeda sedangkan pasangan Bragg merupakan peneliti bersama. Sama seperti keluarga Thomson, keduanya berkebangsaan Inggris. Bahkan, kedua ayah-anak tersebut merupakan kawan akrab. William Bragg sendiri pernah menimba ilmu di bawah arahan Joseph Thomson.

Bersama anaknya, Lawrence Bragg, William mengembangkan studi dan instrumen untuk mempelajari struktur kristal dengan memanfaatkan difraksi sinar-X atau yang lebih dikenal dengan kristalografi. Mereka merumuskan hukum Bragg yang terkenal untuk menentukan posisi atom-atom dalam kristal. Kristalografi sinar-X selanjutnya membantu para ilmuwan dalam mempelajari struktur kimia dan fisika dari berbagai zat, baik organik maupun anorganik. Atas kontribusinya itu, William dan Lawrence Bragg mendapat Nobel Fisika tahun 1915. Saat menerima Nobel, Lawrence masih berusia 25 tahun sehingga menjadikannya penerima Nobel Fisika termuda hingga saat ini.

blank
(a) William Bragg dan (b) Lawrence Bragg

4. Niels Bohr dan Aage Bohr

Masih dari bidang fisika dan juga merupakan pasangan ayah-anak, keluarga peraih Nobel selanjutnya adalah Niels dan Aage Bohr yang berasal dari Denmark. Niels Bohr tentu saja terkenal melalui model atomnya yang sukses menjelaskan karakter atom hidrogen, terutama mengenai spektrum radiasi yang dipancarkan di mana model atom Rutherford gagal mengantisipasinya. Hal yang menarik di sini adalah Niels Bohr juga pernah meneliti di bawah bimbingan Joseph Thomson dan Ernest Rutherford secara terpisah ketika di Inggris.

Ia dianugerahi Nobel Fisika pada tahun 1922 atas kontribusinya dalam mengungkapkan struktur atom yang kemudian menjadi fondasi bagi lahirnya model atom mekanika kuantum. Karena prestasinya itu, sebuah perusahaan bir kemudian menghadiahi Niels sebuah rumah yang dipasangi pipa untuk mengalirkan bir langsung dari pabrik di dekatnya.

Kesuksesannya sebagai fisikawan peraih Nobel kemudian diikuti oleh anak keempatnya yang bernama Aage Bohr. Pada tahun 1975, bersama dengan Ben R. Mottelson and Leo J. Rainwater, Aage berhasil mendapatkan Nobel Fisika atas kontribusinya mengembangkan teori mengenai struktur inti atom. Namun sayangnya, prestasinya tersebut tidak sampai disaksikan oleh Ayahnya karena Niels meninggal tahun 1962.

blank
Aage Bohr (kiri) dan Ayahnya, Niels Bohr

Di dalam keluarga Bohr memang mengalir darah akademisi. Selain kakeknya yang merupakan ahli fisiologi dan pamannya yang adalah seorang ahli matematika, kedua anak Aage yang bernama Vilhelm dan Tomas Bohr juga berkarier sebagai peneliti. Vilhelm adalah seorang peneliti di bidang perbaikan DNA sedangkan Tomas mengikuti jejak Aage dan Niels sebagai profesor fisika, namun di bidang dinamika fluida. Jika Tomas berhasil memenangkan Nobel, maka keluarga Bohr akan memecahkan rekor sebagai pemenang pertama Nobel Fisika yang berasal dari tiga generasi. Kita nantikan, ya!

5. Manne Siegbahn dan Kai M. Siegbahn

Bidang fisika rupanya mendominasi pasangan ayah dan anak laki-laki yang berhasil meraih hadiah Nobel. Dari enam pasang ayah-anak laki-laki peraih Nobel, empat di antaranya merupakan ahli fisika. Setelah keluarga Thomson, Bragg, dan Bohr, pasangan ayah-anak pemenang Nobel Fisika kali ini berasal dari Swedia, yakni Manne Siegbahn yang mendapatkan Nobel tahun 1924 dan anaknya, Kai Siegbahn yang meraih Nobel tahun 1981.

Keduanya merupakan pakar di bidang spektroskopi. Manne mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam meneliti spektroskopi sinar-X sedangkan Kai berjasa dalam mengembangkan spektroskopi elektron beresolusi tinggi. Spektroskopi adalah studi yang mempelajari interaksi antara materi dengan gelombang elektromagnetik ataupun partikel lain seperti elektron, proton, dan ion. Teknik spektroskopi banyak digunakan untuk meneliti komposisi kimiawi, struktur fisika, dan struktur elektronik dari berbagai zat pada tingkat atom dan molekuler.

blank
Manne Siegbahn (kiri) dan Kai Siegbahn, ayah dan anak yang berjasa di bidang spektroskopi

6. Hans von Euler-Chelpin dan Ulf von Euler

Keluarga Euler juga merupakan pasangan ayah dan anak laki-laki berkebangsaan Swedia, namun keduanya tidak berkecimpung di bidang fisika seperti keluarga Siegbahn. Hans von Euler-Chelpin adalah seorang ahli biokimia kelahiran Jerman yang dianugerahi Nobel Kimia (bersama Arthur Harden) pada tahun 1929 atas prestasinya dalam menyelidiki proses fermentasi pada gula dengan bantuan enzim. Penelitiannya tersebut membantu dalam memahami bagaimana otot mendapatkan energi.

Hans von Euler masih memiliki garis keturunan dengan ahli matematika terkenal asal Swiss, Leonhard Euler. Istrinya yang bernama Astrid Cleve juga seorang ilmuwan yang menggeluti bidang botani, kimia, dan geologi. Ia merupakan wanita Swedia pertama yang berhasil meraih gelar doktor di bidang sains. Ayah Astrid yang bernama Per Teodor Cleve, adalah seorang profesor kimia yang terkenal karena berhasil menemukan unsur kimia holmium dan thulium.

blank
Hans dan Ulf von Euler

Dibesarkan di lingkungan akademisi dan peneliti, maka tidak mengherankan jika sang anak yang bernama Ulf von Euler juga mengikuti jejak mereka sebagai ilmuwan. Ulf semula menempuh pendidikan kedokteran, tetapi kemudian memilih untuk menjadi peneliti. Beberapa penemuan pentingnya antara lain zat aktif dalam tubuh yang disebut prostaglandin, vesiglandin, piperidin, dan noradrenalin. Bersama dengan Bernard Katz dan Julius Axelrod, ia menerima Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1970 atas jasanya dalam menemukan mekanisme impuls pada syaraf. Penemuannya tersebut tentu saja merupakan kemajuan tidak hanya bagi dunia ilmiah, melainkan juga pada ilmu kedokteran.

7. Gerty T. Cori dan Carl F. Cori

Gerty Cori dan Carl Cori merupakan pasutri ketiga yang berhasil memenangkan Nobel. Keduanya menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Praha hingga akhirnya meraih gelar PhD pada tahun 1920 dan menikah di tahun yang sama. Karena adanya tekanan anti-Semit, mereka lalu beremigrasi dari Wina ke AS pada tahun 1922 dan memulai riset tentang metabolisme dalam tubuh.

Pasangan ahli biokimia tersebut fokus melakukan penelitian selama bertahun-tahun tentang metabolisme glikogen dan glukosa sehingga dapat memahami bagaimana mekanisme tubuh dalam menyimpan dan menggunakan energi. Suatu proses yang kemudian disebut siklus Cori atau siklus asam laktat diketahui merupakan bagian yang penting dari proses metabolisme. Lebih lanjut, hasil penelitian mereka sangat berguna dalam pengobatan penyakit diabetes. Atas prestasinya tersebut, mereka dianugerahi Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran (berbagi dengan Bernardo A. Houssay asal Argentina) pada tahun 1947. Penghargaan itu juga menjadikan Gerty sebagai wanita AS pertama yang berhasil mendapatkan Nobel.

blank
Carl Cori dan Gerty Cori sedang melakukan eksperimen

8. Arthur Kornberg dan Roger Kornberg

Pasangan ayah-anak terakhir yang memenangkan Nobel adalah keluarga Kornberg asal AS. Jika Hans von Euler meraihnya di bidang Kimia sedangkan anaknya sukses di bidang Fisiologi atau Kedokteran, maka keluarga Kornberg sebaliknya. Arthur Kornberg dianugerahi Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1959 (berbagi dengan Severo Ochoa)  atas jasanya dalam mengungkapkan mekanisme sintesis DNA dan RNA dengan bantuan enzim. Bersama timnya, Arthur berhasil menemukan enzim DNA polimerase I yang sangat vital dalam pengembangan teknologi DNA rekombinan dan banyak dipakai oleh industri bioteknologi.

Pada tahun 2006, anaknya yang bernama Roger Kornberg menerima Nobel Kimia setelah studinya tentang transkripsi eukariotik dari sisi molekuler mampu menjelaskan bagaimana informasi genetik ditransmisikan dari DNA ke RNA. Arthur cukup beruntung dapat menyaksikan putera sulungnya tersebut menerima penghargaan Nobel karena ia tutup usia setahun kemudian.

blank
Arthur Kornberg (kiri) bersama anaknya, Roger Kornberg

Karier sebagai ilmuwan yang dipilih oleh Roger memang sangat dipengaruhi oleh kedua orang tuanya. Selain ayahnya yang sangat disegani sebagai ahli biokimia di Universitas Stanford, ibunya yang bernama Sylvia Levy juga merupakan ahli biokimia yang ikut mendampingi Arthur sebagai peneliti. Adik Roger yang bernama Thomas adalah juga seorang profesor biokimia yang terkenal karena menemukan enzim DNA polimerase II dan III. Adapun adik bungsunya yang bernama Kenneth, merupakan seorang arsitek dengan spesialisasi desain lab biomedik dan bioteknologi.

9. Jan Tinbergen dan Nikolaas Tinbergen

Jika keluarga peraih Nobel sebelumnya lebih banyak dari pasangan ayah-anak laki-laki dan pasutri, peraih Nobel kali ini merupakan dua pria bersaudara (dan satu-satunya) asal negeri Belanda, yakni Jan Tinbergen dan Nikolaas Tinbergen. Jan meraih Nobel pertama di bidang Ilmu Ekonomi (berbagi dengan Ragnar Frisch) di tahun 1969 karena telah mengembangkan dan mengaplikasikan model dinamis untuk menganalisis proses-proses yang terjadi di dunia ekonomi. Uniknya, Jan bukanlah seorang lulusan ilmu ekonomi, melainkan seorang doktor fisika dari Universitas Leiden.

Ia tertarik pada dunia ekonomi karena ingin berkontribusi lebih banyak bagi masyarakat. Risetnya berangkat dari pemikirannya bahwa ilmu fisika dan statistika bisa diterapkan untuk menjawab berbagai permasalahan yang muncul di dunia ekonomi, khususnya dalam membuat kebijakan jangka panjang. Bersama dengan Ragnar Frisch, Jan Tinbergen berjasa sebagai pelopor yang mengubah ilmu ekonomi yang semula lebih bersifat kualitatif menjadi lebih kuantitatif. Mereka meletakkan dasar-dasar ilmu apa yang di kemudian hari dikenal sebagai ekonometrik.

Empat tahun setelah Jan menerima Nobel, adiknya yang bernama Nikolaas mengikuti jejaknya setelah dia dianugerahi Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran. Risetnya bersama Karl von Frisch dan Konrad Lorenz menambah pengetahuan baru di dunia perilaku hewan atau etologi, yakni tentang bagaimana pola perilaku individual dan kelompok dapat muncul. Nikolaas Tinbergen adalah seorang pakar burung (ornitologis) yang juga terkenal sebagai salah satu pionir etologi modern. Salah seorang muridnya yang terkenal adalah Richard Dawkins, seorang ateis yang mendalami biologi evolusi.

blank
Dua bersaudara peraih Nobel di bidang yang berbeda, Jan Tinbergen (kiri) dan Nikolaas Tinbergen

10. Gunnar Myrdal dan Alva Myrdal

Gunnar dan Alva Myrdal adalah pasutri satu-satunya peraih Nobel dari bidang yang berbeda. Gunnar Myrdal diganjar Nobel di bidang Ilmu Ekonomi pada tahun 1974 (bersama dengan Friedrich August von Hayek) sedangkan Alva Myrdal mendapatkan Nobel Perdamaian pada tahun 1982 (berbagi dengan Alfonso Robles). Pasangan asal Swedia ini merupakan tokoh politik, sosial, dan aktivis kemanusiaan terkenal pada dekade 1930-an.

blank
Gunnar Myrdal dan Alva Myrdal

Gunnar Myrdal menempuh pendidikan di bidang hukum dan ekonomi. Sepanjang hidupnya, ia berkarier tidak hanya sebagai akademisi, namun juga terjun ke dunia politik. Ia pernah terpilih sebagai anggota Senat dan sempat menjabat Menteri Perdagangan Swedia sebelum aktif di PBB. Risetnya tentang isu rasisme di AS dan kebijakan ekonomi di wilayah Asia Selatan sangat penting dalam membantu memberantas kemiskinan di negara-negara berkembang. Hadiah Nobel Ekonomi diberikan kepadanya karena telah memelopori teori tentang fluktuasi ekonomi dan keuangan dalam kaitannya dengan fenomena ekonomi, sosial, dan institusional.

Sama seperti suaminya, Alva Myrdal juga mengenyam pendidikan di Universitas Stockholm dan pernah menjadi anggota parlemen dari Partai Sosial Demokrat. Ketika itu, perhatiannya adalah meningkatkan kesejahteraan golongan pekerja dan memperjuangkan hak-hak perempuan. Sebelum menjadi anggota parlemen, Alva aktif di UNESCO, khususnya dalam urusan ilmu sosial dan kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan. Beberapa tahun kemudian, ia ditugaskan sebagai Dubes Swedia untuk India.

Peran terpentingnya ketika berkarier di dunia politik, baik sebagai anggota parlemen maupun kabinet, adalah memperjuangkan program pelucutan senjata nuklir. Di berbagai forum internasional, ia mewakili Swedia dan negara-negara nonblok dalam menekan AS dan Uni Soviet agar mengakhiri perlombaan senjata menuju perdamaian.

11. May-Britt Moser dan Edvard Moser

Setelah pasangan Cori meraih Nobel tahun 1947, tidak ada lagi pasutri yang meraih Nobel bersama hingga tahun 2014, yakni ketika pasangan Moser berbagi hadiah Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran. May-Britt Moser dan Edvard Moser merupakan ahli neurosains dan psikologi berkebangsaan Norwegia. Keduanya bersekolah di SMA yang sama tetapi baru menjalin hubungan saat berkuliah di Universitas Oslo. Setelah lulus, mereka tertarik pada penelitian John O’Keefe tentang suatu sel pada otak yang berfungsi sebagai penanda posisi dan menentukan arah dalam ruang.

blank
Pasangan ahli neurosains asal Norwegia, Edvard Moser dan May-Britt Moser

Kemampuan menentukan posisi dan mencari arah sangat penting bagi manusia dan hewan sehingga menjadi pusat perhatian para ahli neurosains selama puluhan tahun. Pada tahun 2005, pasangan Moser menemukan sel dekat hippocampus yang berperan untuk membentuk semacam sistem koordinat atau peta. Sel tersebut mereka namakan ‘sel grid’. Ketika menggunakan tikus sebagai objek penelitian, mereka mendapati bahwa tikus yang bergerak melewati titik tertentu dalam ruang menunjukkan aktivitas pada sel syarafnya yang berfungsi untuk navigasi.

Penemuan ‘GPS dalam otak’ tersebut kemudian membawa pasangan Moser dan John O’Keefe yang merupakan bekas pembimbingnya ketika di Inggris sebagai penerima Nobel bersama tahun 2014. Di samping membantu memecahkan misteri yang muncul selama berabad-abad lamanya tentang bagaimana otak manusia dan hewan dapat menentukan orientasi dalam ruang dan merekam pengamatannya terhadap lingkungan, hasil penelitian mereka juga bermanfaat untuk menyelidiki penyakit degeneratif pada otak seperti Alzheimer.

Pasangan Moser dikaruniai dua orang putri yang usianya terpaut sepuluh tahun. Sayangnya, Edvard dan May-Britt bercerai pada tahun 2016. Walaupun demikian, mereka tetap berkolaborasi dalam melakukan riset.

12. Esther Duflo dan Abhijit Banerjee

Pasangan suami-istri keenam atau terakhir yang memenangkan hadiah Nobel bersama adalah pasangan asal AS, Esther Duflo dan Abhijit Banerjee. Keduanya merupakan pakar ekonomi yang berafiliasi di MIT dan sudah berkolaborasi sejak lama sebelum menikah di tahun 2015 (Abhijit merupakan pembimbing Esther saat mengambil PhD). Menariknya, topik disertasi Esther ketika itu adalah pengaruh program SD Inpres di Indonesia yang mulai dijalankan sejak tahun 1970-an terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.

Pasutri lintas benua ini tumbuh di lingkungan yang berbeda. Esther lahir di Prancis dari ayah yang merupakan seorang profesor matematika dan ibu yang berprofesi sebagai dokter anak sedangkan Abhijit lahir di India dari orang tua yang juga merupakan profesor ekonomi. Mereka berdua mendedikasikan hidupnya dalam memerangi kemiskinan di dunia dengan melakukan riset di beberapa negara di Afrika dan Asia.

Bersama Michael Kraemer, Esther dan Abhijit memperkenalkan pendekatan baru untuk memperoleh jawaban yang lebih terpercaya tentang bagaimana memerangi kemiskinan global. Metode yang mereka ajukan adalah membagi-bagi permasalahan yang ada menjadi lebih sederhana agar lebih terarah dan dapat dikendalikan. Mereka mempelajari kehidupan orang miskin pada lingkungan tertentu dengan melihat misalnya barang apa saja yang dibeli, seberapa besar perhatian orang tua terhadap kesehatan anak-anaknya, bagaimana pengaruh pendidikan terhadap kehidupan ekonomi, dsb.

Dari hasil penelitian lapangan mereka selama bertahun-tahun, lebih dari lima juta anak-anak di India kini mendapat manfaat dari program pendidikan yang efektif. Selain itu, berbagai negara juga mulai memberikan subsidi besar-besaran untuk layanan kesehatan yang bersifat preventif. Kerja keras dari ketiga pakar ekonomi tersebut akhirnya membawa mereka meraih Nobel Ekonomi tahun 2019. Penghargaan itu juga menjadikan Esther sebagai wanita kedua dan termuda (46 tahun) yang meraih Nobel di bidang Ekonomi.

blank
Esther Duflo dan Abhijit Banerjee saat menerima pengumuman hadiah Nobel di rumahnya

Referensi

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 2

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *