“Berkhayal atau Berhitung Dahulu?” Bentuk Keresahan Terhadap Sistem Pendidikan Indonesia Saat Ini

“Berkhayal atau Berhitung Dahulu?” Bentuk Keresahan Terhadap Sistem Pendidikan Indonesia Saat Ini

Membaca buku IPA karya Janice van Cleave atau Yohanes Surya, terpikir bahwasanya pelajaran pertama untuk ilmuwan masa depan adalah berkhayal. Sebagaimana ucapan Einsten bahwa khayalan atau imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Tak kalah penting pula penguatan jiwa sebagaimana ucapan Einstein, lagi, bahwa agama tanpa ilmu lumpuh dan ilmu tanpa agama buta. Lalu bagaimana isi buku kedua pengajar IPA terkemuka tersebut?

Contoh buku percobaan populer. Sebelah kiri karya Janice van Cleave dan sebelah kanan karya Yohanes Surya.

Pertama, tidak muncul hitung-hitungan dalam setiap percobaan. Bahkan keberadaan angka-angka untuk menjustifikasi keilmiahan karya tersebut seperti sangat dihindari. Petunjuk percobaan cenderung melalui gambar dan sedikit tulisan panduan. Ampuhkah? Terlihat bahwa murid-murid Yohanes Surya sudah tak terhitung yang lolos olimpiade sains, serta buku Janice van Cleave diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dengan pelaksanaan percobaan yang bisa langsung dilihat kenyataannya, maka bocah akan lebih mudah memperkirakan kejadian sesuai hukum alam atau sunnatullah. Maksudnya berkhayal secara ilmiah atas ibrah suatu kejadian. Setidaknya mampu mengira-ngira kapan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil terjadi.

Acara TV Hand Made yang pernah diputar di Trans7 adalah salah satu tayangan yang bagus untuk melatih kreativitas anak-anak.

Salahkah jika pelajaran hitung menghitung diberikan di awal? Tidak mesti! Ada siswa yang langsung menikmati sajian angka-angka dan tanpa beban mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ada siswa yang lebih memilih hidup merdeka dengan mengeksplorasi alam liar bersama bocah sebayanya. Secara umum, bocah lebih suka bermain daripada berpikir serius apalagi membuat perhitungan. Jangankan bocah, perekayasa yang sudah “gede” sekalipun mungkin tidak mau terlibat perhitungan selain menyerahkannya pada juru hitung atau cukup percaya data komputer. Seorang akuntan ahli pun bisa saja tak lagi melakukan pekerjaan kasar kasir tersebut.

Inginnya sih, anak-anak segera mampu berpikir sistematis praktis dan siap pakai alias bisa segera dimanfaatkan supaya dapat diperas otaknya.

Barangkali pembaca sekalian masih ingat masa kecil masing-masing, apakah paham seketika dengan apa yang diajarkan guru di sekolah? Ada kalanya orangtua memerintahkan ini itu kepada anak, sedangkan anak sendiri tidak tahu ini itu apa. lupa bahwa yang dihadapinya adalah bocah polos yang belum tahu banyak makna. Contohnya pada kisah dibuku karya Jamie, mengisahkan tentang si anak berkali-kali diperingatkan jangan berbelok ke tikungan, eh tapi ternyata si anak belum tahu apa itu tikungan [1].

Memang, ada bocah yang mampu saja melampaui pemikiran umumnya bocah seusianya. Siapa tak bangga anaknya dianggap cerdas oleh orang banyak seperti Musa Izzanardi Wijanarko yang masuk MIPA ITB ketika berusia 14 tahun [3] atau Nur Wijaya Kusuma yang masuk UGM ketika berusia 15 tahun [4]? “Siapa dulu yang ngelahirin” begitu mungkin kata ibunya sambil menepuk dada ?.

Jangan ambisius dulu, lihat potensi anak seperti apa! Jika “gesit” seperti orangtua kedua bocah di atas, tentu sangat menyenangkan. Kalau anaknya telmi, anaknya disuruh mengikuti birokrasi sekolah yang panjang dan menjemukan, akhirnya si anak menganggap sekolah hanya kutukan karena melihat banyak ketidakjujuran ketika ujian sekaligus bosan melihat Lembar Jawaban Komputer.[5]

Saya sendiri lebih memilih tidak terburu menuntut anak bisa berpikir layaknya orang dewasa. Apa mau bocah yang belum berani sunat sudah mengerti cara buat anak atau berkomplot kriminal? Jika memang demikian, pantaslah kurikulum sekolah dasar, bahkan Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini zaman now yang semakin cepat matangnya dibuat secara high expectated dibanding high order melampaui kewajaran jalan pikiran anak-anak. Einstein yang dijuluki sang jenius pun dianggap sebagai pembelajar yang lambat (slow learner) selama sekolah. Einstein cenderung berpikir dengan caranya sendiri (yang diklaim oleh beberapa peneliti sebagai proses menikmati setiap detail) sedangkan sekolah memberi pemahamanan dengan cara berpikir guru semata yang cenderung cepat [6]. Dalam buku Growth Mindset karya Carol Dweck juga dijelaskan bahwa yang terpenting dalam proses belajar bukanlah kecepatan, tapi kepahaman!

Jadi sangat keliru ketika menjustifikasi seseorang atau anak sebagai orang yang “bodoh” karena lambat dalam belajar. Bisa jadi ia seperti Einstein, menikmati sedikit demi sedikit namun tertancap di otak. Atau seperti Abraham Lincoln sang presiden ke-16 Amerika Serikat yang sangat terkenal. Lincoln mengakui dirinya sebagai pembelajar yang lambat dalam quote yang cukup fenomenal berikut ini:

“Saya lambat dalam belajar dan juga lambat dalam melupakan apa yang telah saya pelajari. Otak saya seperti sepotong baja, sangat sulit untuk diukir di atasnya. Namun ketika telah diukir, maka hampir mustahil Anda untuk menghilangkan ukiran tersebut. ”

Menurut Kak Seto, anak dinyatakan benar-benar siap menghadapi kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya di atas 10 tahun. Sedangkan dari di usia kanak-kanak sampai sembilan tahun, ada baiknya anak diajarkan soal pembentukan karakter diri. Misalnya memantapkan etika dan estetika agar dia berbuat lebih baik dan santun. 

“Sebab kalau materi yang disajikan terlalu padat, yang ada siswa malah stres, etika rusak, menjadi pemarah. Dan sifat-sifat itu kan salah satu dasar prilaku anak berbuat tawuran,” jelasnya.

Pria yang akrab dengan boneka si Komo ini menambahkan, ada baiknya anak kelas I sampai III SD, belajar sambil bermain. Misalnya tempat belajar di alam bebas, sehingga ketika dia berhitung dia akan menghitung apa yang dia lihat bukan yang disajikan di buku, atau menghitung balok.

“Nah ketika kelas IV, sudah lebih serius,” tambahnya. [2]

Diakui atau tidak, pada masa ketatnya persaingan mendapat pekerjaan seperti saat ini menuntut orang dewasa untuk menjadikan anaknya lebih cerdas. Lebih cerdas yang oleh beberapa orang tua diterjemahkan secara konyol sebagai lebih awal disekolahkan, lebih awal dijejali matematika, dan lebih awal disodorkan teknologi. Kekonyolan tersebut membuat anak-anak sedikit atau tidak memiliki waktu untuk bermain. Padahal ketika anak masuk ke suatu lapangan permainan misalkan permainan mandi bola, orangtua tak perlu banyak mengatur. Biarkan mereka berimajinasi dalam dunianya sendiri sehingga kreativitas bisa terpicu dan nalar terbentuk secara simultan, karena ada pelampiasan otak dan otot yang masih panas.

Tidak mesti permainan yang melibatkan aktivitas fisik. Beberapa permainan komputer atau gadget (gawai) dapat pula merangsang kreativitas, meskipun masih ada banyak kekurangannya seperti menyebabkan kecanduan, berdampak buruk bagi kesehatan mata, dll. Adanya televisi dan gawai memerlukan penanganan lebih keras sebagaimana pernah dilakukan salah satu kepala desa di Magetan. Beliau berhasil meningkatkan prestasi anak-anak di wilayahnya dengan menerapkan jam belajar setelah maghrib hingga pukul 21.00 dengan melarang anak-anak menonton televisi atau bermain gawai pada rentang jam tersebut [8]. 

Menurut saya, permainan paling bermakna adalah permainan leluhur kita yang semakin tergerus zaman. Di antaranya adalah dakon, gobag sodor, bentengan, engklek, egrang, 3 daerah, petak umpet, ular-ularan, cublak-cublak suweng, dan masih banyak macam lainnya [7].

Dakonan, salah satu permainan tradisional yang mengajarkan pembagian kekayaan.
Sumber : https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=4738

Pada sistem pendidikan Indonesia saat ini terutama pendidikan pada masa anak-anak dan remaja, saya rasa masih kurang dalam hal penanaman budi pekerti dan pengendalian diri. Padahal kedua hal tersebut sangatlah penting untuk menjadi manusia dewasa yang cerdas dan bermoral. Tak lupa pula pendidikan aqidah dan akhlak beserta kedisiplinan bagi generasi Islami.

Sia-sia menebang pohon untuk membuka jalan jika jalannya saja ternyata keliru [9]. Percuma berkompeten kalau digunakan untuk hal yang negatif, misalnya DPR yang dipilih oleh rakyat karena dirasa kompeten eh ternyata melakukan korupsi.

Referensi:

[1] Jamie C. Miller, 1998, Mengasah Kecerdasan Moral Anak melalui Permainan 10-menit, diterjemahkan dari judul 10-Minute Life Lessons for Kids:  52 Fun and Simple Games and Activities to Teach Your Child Trust, Honesty, Love, and Other Important Values, Penerbit Kaifa, Bandung.

[2] Lia Harahap, Kak Seto: Pelajaran siswa SD terlalu padat, dari https://www.merdeka.com/peristiwa/kak-seto-pelajaran-siswa-sd-terlalu-padat.html dibuka tanggal 26 Desember 2018

[3] Putra Prima Perdana, Ini Pola Belajar Bocah Izzan, Bocah 14 Tahun yang Masuk ITB Lewat SNMPTN, dari https://regional.kompas.com/read/2017/06/16/03200061/ini.pola.belajar.izzan.bocah.14.tahun.yang.masuk.itb.lewat.sbmptn dibuka 26 Desember 2018

[4] Ika, Nur Wijaya Kusuma Mahasiswa Termuda UGM Berusia 15 Tahun, dari https://www.ugm.ac.id/id/news/16768-nur.wijaya.kusuma.mahasiswa.termuda.ugm.berusia.15.tahun dibuka 26 Desember 2018

[5] Pengalaman pribadi melihat kesepakatan para guru dan kepala sekolah menyuruh para murid bekerjasama ketika ujian supaya peringkat sekolah tidak jatuh. Tindakan ini lumrah di banyak sekolah sebelum Ujian Nasional Berbasis Komputer diselenggarakan.

[6] Adiya Nor Kurniawan, 2017, Biografi Ilmuwan Modern Barat & Muslim, Azka Presindo, Surakarta.

[7] Luluk, Cara Melestarikan Permainan Tradisional, dari https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=4738 dibuka 25 Desember 2018

[8] Rijal Mumazziq Zionis, penting kita perhatikan adalah mengontrol akses terhadap televisi, http://www.penerbitimtiyaz.com/blog/penting-kita-perhatikan-adalah-mengontrol-akses-terhadap-televisi/ dibuka 25 Desember 2018

[9] Kisah ini diuraikan Professor Steven Franklin Covey, pengarang “7 Habits” dan “First Thing First” yang saya tonton dalam kuliah Pandangan Dunia yang belum bisa diumumkan. Materi yang serupa terinspirasi dari beliau dapat ditonton di The Clock vs. The Compass by Dan Hawkins | Life Leadership

“7 Jurus Menaklukkan Exponential Shock”

“7 Jurus Menaklukkan Exponential Shock”

Sejak hari minggu lalu saya menulis tentang Exponential Shock. Bahwa Dunia berubah dengan sangat cepat akhir-akhir ini, dan akan semakin bertambah cepat dalam beberapa tahun/dekade kedepan. Bahwa diprediksi oleh 2 orang genius futurists, Ray Kurzweil dan Peter Diamandis (Dua orang Pendiri Singularity University) sebentar lagi kita akan menyambut Era Singularity, dimana kapasitas processing computer diperkirakan akan menyamai otak manusia di tahun 2029, dan akan menyamai kapasitas penjumlahan otak sekitar 8 Milyar manusia di tahun 2038.

Dan bahwa sedang dikembangkan perangkat penghubung untuk mecangkokkan langsung antara otak dan komputer oleh “The Real Iron Man”, Elon Musk dengan perusahaan barunya: “Neuralink”. Jadi anda tidak perlu laptop, dll, krn Otak anda langsung berkomunikasi dng super komputer yg powernya paling tidak sama dng otak anda. Anda akan memiliki kesadaran dan spiritualitas manusia, dengan kecerdasan dan intelektualitas super komputer yg tidak pernah lupa dan tahu apa saja.

Mungkin anda menganggap ini omong kosong dan khayalan science fiction. Saya pun awalnya demikian, Tapi silahkan anda cek kredibilitas dan track record 3 orang yg saya sebut diatas (yg bikin klaim2 fantastis tersebut) dalam mewujudkan hal2 yg tidak mungkin menjadi kenyataan. Dan bagaimana 3 orang tersebut bukan hanya bicara atau bikin prediksi ngawur, tapi mereka benar2 mewujudkan jadi kenyataan satu persatu yg mereka prediksikan. Ada dua pertanyaan yg menggelayuti benak saya. 1. Apakah saya dan anda akan ikut menjadi pemain (kalaupun bukan pemeran utama paling tidak peran pembantu atau minimal figuran, yg penting ikut main), atau cuman bengong terkaget2 saja dan jadi korban? 2. Saat itu terjadi, bagaimanakah caranya agar kita tidak jadi fir’aun yg mengaku Tuhan karena merasa bisa melakukan apapun? atau tidak seperti robot super canggih yg kehilangan emosi dan spiritualitas karena terlalu pintar secara intelektual? Pertanyaan pertama kita bahas kapan2, kita jawab dulu pertanyaan kedua. Apa saja yg perlu kita lakukan agar kita tidak kehilangan “kemanusiaan” kita. Apakah anda mulai merasakan bahwa sebenarnya anda, bahkan anak anda saat ini sudah sangat jauh lebih berpengetahuan dibanding para profesor atau presiden Amerika 15 tahun lalu? bahwa apapun yg ditanyakan pada anda bisa langsung anda jawab dengan rinci dlm waktu 5 menit asal anda ditemani HP yg terhubung internet? Bisakah anda bayangkan bahwa 10 tahun lagi anda akan 1000X lebih “Pintar” dalam mengkases segala informasi? Kalau begitu masih relevankah sekolah yg mengajari hafalan atau cuman menambahi “pengetahuan” ke siswanya, padahal hanya dengan mengintip HP semua pengetahuaan itu akan tersedia jauh lebih rinci. Lalu sekolah sebaiknya mengajarkan apa? Apa yg perlu kita dan anak kita pelajari jika tugas menghafal dan nambah pengetahuan sudah bisa digantikan HP/komputer? Saya menyarankan 7 hal yg paling penting:

1. Intelektualitas: Ketrampilan bikin “pertanyaan” yg bagus, bukan bikin “semua jawaban”. Karena semua jawaban bahkan ketrampilan logika sudah bisa dikerjakan komputer. maka tugas kita yg jauh lebih penting: Ketrampilan bikin pertanyaan. Karena kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas pertanyaan kita. Karena komputer bisa bikin jawaban yg tepat, tapi apakah jawaban itu bermanfaat apa tidak, tergantung kualitas pertanyaan anda.

2. Emosi: Ketrampilan untuk Beradaptasi dengan cepat. Saat perubahan terjadi begitu cepat dan terus bertambah cepat, kita mudah sekali mengalami kebingungan dan kualahan. Belum selesai kagetnya dengan satu hal, muncul hal lain yg lebih mengagetkan. Kalau kita tidak melatih hati kita unt gigih (Grit. Lihat video Angela Duckworth ttg pentingnya kegigihan) dan mudah beradaptasi apapun situasinhya (Adaptability) maka kita bisa bergabung dengan 30% penduduk yg sakit jiwa. Maka saya sengaja mengekspose anak2 saya dengan berbagai macam kondisi: kondisi semua serba ada, kondisi prihatin, kondisi lingkungan sekolah serba islami, kondisi lingkungan di Inggris yg macem2 orangnya, dll. Biar mereka latihan beradaptasi dalam kondisi apapun.

3. Sosial: Ketrampilan mencintai tanpa syarat dan memaklumi orang yg macam2 ragamnya. Dalam dunia yg semakin global dan serba terbuka ini, kalau anda tidak punya hati seluas samudra untuk bisa berempati dan memaklumi sifat orang yg beraneka ragam, anda akan stress sendiri. Lihatlah Indonesia Lawyers Club, tiap minggu menyuguhkan perdebatan. Tengoklah Medsos, penuh dengan kontroversi dimana setiap pihak merasa benar sendiri, dibumbui umpatan2 yg merendahkan orang yg tidak sepaham. Silahkan anda pegang teguh keyakinan agama, aliran madzhab, atau paham politik anda. Tapi milikilah empati dengan orang yg berbeda dengan anda. Anda ndak harus setuju sama mereka, cuman hindarilah melakukan demonisasi (menganggap orang lain demon/sesat). Rilekslah sedikit, milikilah sikap para imam madzhab dulu: “Saya yakin pendapat saya benar, tapi bisa jadi ada salahnya, wong saya manusia biasa. Saya juga yakin pendapat beliau salah, tapi bisa jadi ada benarnya. paling tidak didasari niat baik mencari kebenaran versi dia”. Tirulah semangat orang bijak yg memiliki “benefit of the doubt” (kerendahan hati yg didapat dari “sedikit meragukan” pendapat saya sendiri, biar ndak sok-sok-an). Intinya mari kita tiru akhlaq Nabi: Roufur Rohim.. loving-kindness… mencintai tanpa syarat orang lain, semata2 krn cinta kita pada Pencipta mereka. kalaupun harus membenci, bencilah perbuatannya saja, tetap sayangi dan kasihi orangnya.

4. Fisik: Ketrampilan merawat dan meremajakan diri.. Kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan diperkirakan akan sangat drastis dan fundamental. Siap2lah untuk hidup hingga usia 100 tahun, tapi juga siap kalaupun harus mati besok. Jika ternyata kita dikasih umur hingga 100 bahkan 120 tahun, apakah akan kita habiskan di tempat tidur karena ndak bisa apa2, tapi juga ndak mati2, atau kita tetap punya vitalitas yg cukup tinggi sampai maut menjemput kita?. Silahkan googling “Blue Zone” untuk belajar rahasia komunitas orang2 di 5 pojok dunia yg usianya 100-an tahun dan tetap hidup sehat dan aktif.

5. Estetika: Ketrampilan menghargai keindahan. Nikmatilah setiap momen hidup kita sambil melakukan yg terbaik di setiap kesempatan. Jangan terlalu sibuk sampai lupa berhenti sejenak untuk mengapresiasi keindahan disekitar kita. Dengan perubahan yg terakselarasi secara eksponensial, anda bisa jadi stress, kelelahan dan depresi, atau malah excited, tertantang dan optimis. Yg manakah anda tergantung apakah anda termasuk orang yg menghargai bahwa “Life is So Beautiful”

6. Finansial: Perubahan dunia bisnis akan terjadi sampai level akar2nya. jaman 10-20 tahun lalu, untuk jadi biliyoner atau bahkan triliyuner, anda harus membangun bisnis puluhan tahun dengan ribuan karyawan. Jaman sekarang bisa dengan belasan karyawan dalam waktu 2 tahun saja. Begitu pula perusahaan dengan ratusan ribu karyawan dan berjaya puluhan tahun bisa tutup dalam beberapa bulan saja. Ini era yg bisa jadi menakutkan bagi pecinta kemapanan, tapi juga era kesempatan luar biasa yg tidak pernah terjadi sepanjang sejarah bagi mereka yg siap belajar, berubah, siap menangkap peluang2 dengan kerja keras, cerdas, tuntas, berkualitas dan ikhlas. Ini era yg akan menghasilkan banyak sekali korban bergelimpangan, tapi juga luar biasa banyak para pemenang. kira2 kita yg mana nih?

7. Terakhir, yg paling penting, Spiritual: Jika semua peran berpikir, bekerja bahkan mengambil keputusan sudah diambil alih oleh komputer, maka ada satu hal yg tak tergantikan dan menjadi inti kemanusiaan kita: Kemesraan hubungan kita sama Tuhan. Kalau ada hal yg paling penting untuk saya ajarkan pada anak2 saya, maka itu adalah: “Ketrampilan untuk Jatuh Cinta sama Allah.. dan terus Setia dalam Cinta-Nya sampai akhir Hayat”. sudah itu saja, nanti hal2 baik yg lain akan ngikut. Jika kita bisa terus “Merasakan Cinta-nya dan Mengerjakan segala perbuatan hati, pikiran dan fisik sebagai wujud nyata Cinta Ilahi ini, maka apapun yg akan terjadi, walau dunia mau kiamat sekalipun, semua akan baik2 saja”. Maka walau dunia akan berubah secepat kilat, walau goncangan hidup kedepan akan semakin hebat, walau kita tidak tahu akan seperti apa nasib kita dan keluarga kita nanti.. semua akan baik2 saja asal kita tekadkan: “Tidak menanam apapun selain Cinta.. Tidak menyikapi apapun kecuali dengan hati sepenuh Cinta pada para mahluk-Nya.. Dan tidak berharap apapun selain pelukan Cinta-Nya.. Jum’at, 9 Muharrom 1439 H Dalam kondisi Khouf Wa Roja’..

Dalam Delta Air, perjalanan hampir 5 jam Atlanta-San Fransisco afzan Note: Niat awalnya mau menulis tentang topik dengan judul: “Exponential Change + Mindfulness = Peacful Fighter”. Lha kok malah berakhir dengan tulisan tentang Holistic Person di Era Exponential Change. Ya sudah, begitulah adanya, harap maklum, kancilen diatas pesawat ndak bisa tidur.. semoga bermanfaat..

Bloomington, Ahmad Faiz Zainuddin
Mahasiswa MBA
Warwick Business School, UK
Indiana University, USA
Alumni Singularity University, Silicon Valley, USA

Menyikapi Disruption: Takut & Kemaruk Vs. Semangat & Siap Belajar

Menyikapi Disruption: Takut & Kemaruk Vs. Semangat & Siap Belajar

Menyikapi Disruption: Takut & Kemaruk Vs. Semangat & Siap Belajar

Era Disruption, sebenarnya bukanlah era yg berdiri sendiri. Ini hanyalah fase ke-3 dari 6 Fase Exponential Shock. Mari kita nikmati sejenak ulasannya.

Intinya, setiap Industri yg disentuh teknologi informasi, (dan sekarang hampir semua kena sentuhan mautnya) akan mengalami 6 fase transformasi, yg disebut Peter Diamandis: “6D’s of Exponential Growth”

1. Digitalization (Transformasi dari analog menjadi Digital. Misal: Kodak menemukan Foto Digital. Atau Musik, Film, Buku, dll dijadikan bentuk digital MP3, MP4, PDF, dll)

2. Deception (Kodak tertipu karena dikira ini teknologi amatir yg ndak bakal bisa menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, karena saat itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixel).

3. Disruption (Diluar kendali Kodak, tiap 18 bulan, ketajaman foto digital naik 2x lipat secara eksponensial. Dan pada saat ketajamannya mencapai 2 Mega Pixel, kualitasnya sudah sama dengan foto analog. Saat itulah Kodak mulai terdisrupsi.) Fase inilah yg bikin kehebohan disana sini, karena di fase ini, Uber mendisrupt perusahaan taxy, AirBnB mendisrupt Hotel, dll. Terjadi kepanikan masal karena dipikir dunia (minimal bisnis kita) akan runtuh.

4. Dematerialization (semua produk digital akhirnya tidak perlu wadah “material” karena tiba2 semua bisa disimpan di Cloud yg siap diunduh kapanpun dan dimanapun. Jadi silahkan dibuang Semua hardisk yg beirisi koleksi Foto digital anda. Upload aja ke Google Foto yg gratis penyimpanannya, kapanpun, dimanapun, pake alat apapun yg kompatibel, jika anda perlu foto itu tinggal download)

5. Demonetization (Begitu semua tidak dalam wadah material, maka harganya makin lama makin turun. Dan satu saat bisa sangat murah dan terjangkau buat semua. Begitu buku sudah di .Pdf kan, harganya nyaris Nol. Silahkan aja ke koleksi 300 juta buku gratis di: ‪www.pdfdrive.net.‬ Sekarang semua Musik, foto, buku, film, serial tv sudah dibikin versi digitalnya, yg kita masih diminta bayar, tapi ini makin lama makin murah, karena tidak ada lagi “biaya cetak”.

6. Democratization (Pada puncaknya, semua produk akan menjadi murah dan tersedia buat semua orang. Anda telah merasakan sebagian, Video call gratis, HP Murah, Belajar & Baca Buku, Nonton Film dan dengar musik gratis, dll. Inilah fase Abundance for All: Keberlimpahan buat semua)

Maka mestinya, era disruption itu tidak perlu ditakuti atau bikin panik, cuman perlu dipahami bahwa ini bagian dari revolusi kemajuan peradaban yg makin lama akan makin cepat dan insya Allah mengarah pada perbaikan buat semua.. the greatest good for the greatest number of people. Kalau dalam revolusi ada korban2 yg bergelimpangan karena ndak cukup paham dan tanggap, itu hal yg biasa. Nanti juga mereka akan belajar.

Nah anda perlu belajar apa untuk menyiapkan diri dengan penuh optimisme untuk menyambut dan berperan besar di era “exponential abundance” ini?

1. Sadarilah Exponential Technology yg dalam 100 tahun terakhir tetap ajeg bergerak secara exponential, tidak akan melambat apapun yg terjadi pada dunia. Tidak peduli ada resesi tahun 1930-an, ada 2 kali perang Dunia dimana puluhan juta orang terbunuh, ada jatuh bangunnya ekonomi dunia, Kemajuan teknologi tidak melambat sedikitpun. Jadi ini bukan trend sesaat, tapi perubahan fundamental yg berkelanjutan.

2. Pahamilah dampak2nya pada anda, keluarga anda, dan perusahaan anda. Kalau anda Walikota, gubernur dan presiden, pimpinlah birokrasi dan rakyat anda untuk siap melakukan transformasi besar2an. Tapi peliharalah semangat optimisme, kerjasama dan abundance mind-set, bukan kekalutan, persaingan dan scarcity mind-set.

3. Milikilah skill untuk menjawab tantangan dan kesempatan besar ini dengan belajar dan segera mempraktikkan dalam diri dan bisnis anda: “Exponential Technologies, Exponential Organization, Blue Ocean Shift” dan Tools2 untuk menjadi pemain utama yg ikut mengarahkan masa depan umat manusia*.

4. Juga milikilah paradigma Holistic Person, dimana selain mengembangkan faktor inteletual dan fisik (yg peran manusia bakal diambil alih robot & komputer), kita perlu akselerasi pengembangani kecerdasan spiritual, emosi & sosial (peran2 dimana robot+komputer masih kalah jauh, bahkan tidak bakal bisa menandingi manusia)

Catatan: * Iya, anda di era “exponential shock” ini punya kesempatan untuk punya pengaruh global (pada seluruh umat manusia), bukan hanya satu kampung atau satu perusahaan atau satu kota. Anda tidak perlu jadi presiden atau sekjen PBB untuk itu. Saat ini setiap orang, dengan “Amplifier” yg namanya Media Social, dengan strategi yg tepat, bisa berteriak yg didengar secara viral oleh jutaan, puluhan juta, bahkan Milyaran manusia.

What an amazing time to live, right?

Bloomington, Ahmad Faiz Zainuddin
Mahasiswa MBA
Warwick Business School, UK
Indiana University, USA
Alumni Singularity University, Silicon Valley, USA

From Disruption to Abundance, from Paranoid to Optimism

From Disruption to Abundance, from Paranoid to Optimism

Mengapa Saya Tidak Sepakat dengan Prof. Rhenald Kasali
(From Disruption to Abundance, from Paranoid to Optimism)

Akhir2 ini saya sering dapat broadcast WA, postingan FB, dan pembicaraan simpang siur yg isinya adalah semacam peringatan, bahkan ancaman tentang bahaya “Era Disruption”. Terakhir bahkan ada seorang penulis yg mungkin karena semangat sekali, menyatakan bahwa saking mengkhawatirkannya era disruption ini, “bisa membuat anak cucu kita mati berdiri sambil memeluk kitab suci yg entah akan menolong dengan cara apa”. Maka saya terpaksa bikin tulisan ini, walaupun sedang musim ujian di program MBA saya di UK & USA.

Setelah saya lacak, histeria dan demam “Disruption” ini sepertinya salah satunya berawal dari buku, ceramah dan tulisan2 Prof. Rhenald Kasali, Guru besar FE UI, dan salah satu “World Management Guru”, khususnya dibidang Change Management.

Saya sangat setuju dan menghormati beliau sebagai salah satu tokoh penggerak perubahan yg saya kagumi dan ikuti tulisan2nya. Dan sampai saat inipun saya masih menghormati beliau. Tulisan ini sama sekali “nothing personal”, hanya sekedar perimbangan wacana saja, agar perspektif kita lebih utuh untuk menyikapi gegap gempita demam “disruption era” yg salah kaprah.

Saya merasa ada yg kurang lengkap dari pemaparan beliau yg akhirnya bikin banyak orang ketakutan dan salah paham. Banyak orang awam yang akhirnya jadi panik nanti masa depan anak2nya bagaimana jika pekerjaan2 yang ada sekarang bakal lenyap. Banyak eksekutif perusahaan jadi panik jangan2 mereka akan jadi korban “disruption” berikutnya dan akhirnya tergopoh2 mau bertindak tapi jadi mati gaya karena bingung entah mau melakukan apa.

Saya bisa memahami jika Prof. Rhenald bikin banyak orang jadi ketakutan. Bahkan di acara bedah buku beliau di Periplus yg saya tonton lewat Youtube, sang moderator sendiri sampai bertanya, “Prof, Ini kita kesini mau cari ide bisnis di era disruption, tapi kok malah pada pesimis nih menatap masa depan, setelah mendengar pemaparan profesor.. Dan Prof. Rhenald masih juga belum memberikan jawaban yg tegas bagaimana menyikapi perubahan drastis ini.

Saya juga memahami mengapa Prof. Rhenald di buku2nya, tulisan2 dan ceramah2nya banyak menghasilkan kepanikan dan ketakutan. Mungkin ini berawal dari paradigma “Change Management” yg menjadi bidang keahlian beliau. Dalam ilmu manajemen perubahan, salah satu tokoh utamanya adalah Professor Emeritus Harvard Business School, John P. Kotter, dengan teori beliau tentang “8 Steps to change”. Dalam teori ini, langkah pertama untuk bikin sebuah organisasi (dan individu) mau berubah adalah dengan “increase urgency” alias bikin orang2 merasakan urgensitas perubahan. Dan cara paling ampuh untuk itu adalah dengan bikin mereka “ketakutan” apa dampaknya jika tidak mau berubah. Mungkin dengan niat baik inilah Prof. Rhenald hendak menyadarkan masyarakat agar segera “berubah”.

Saya sepakat dengan niat baik untuk menggugah kesadaran masyarakat agar berubah, tapi saya tidak sepakat dengat pendekatan yang entah disadari atau tidak oleh beliau telah menebarkan banyak ketakutan dan kegalauan. Mengapa saya tidak sepakat? Berikut ini alasannya:

A) Sebenarnya cara “menebarkan ketakutan dan kekhawatiran” ini baik-baik saja diterapkan untuk jenis perubahan yang tidak membutuhkan kreativitas, tapi jadi tidak produktif jika tujuan kita adalah untuk melahirkan inovasi, kreatifitas, dan terobosan2 baru. Padahal untuk survive dan Berjaya di era disruption, salah satu syarat utamanya adalah: KREATIVITAS.

? Tidak pernah (atau setidaknya jarang sekali) ide2 kreatif dan terobosan-terobosan inovatif terlahir dari rasa takut. Buku babon setebal hampir 800 halaman tentang kreativitas, The Encyclopedia of Creativity menyebutkan bahwa salah satu penghalang utama kita untuk menghadirkan solusi kreatif adalah jika kita sedang mengalami “emotional barrier”. Dan diantara semua jenis emosi penghalang kreativitas ini, rasa takut adalah yg paling melumpuhkan. Jadi anda tidak bisa memaksa orang yg sedang dilanda ketakutan tentang bahaya era disruption untuk mencari solusi kreatif tentang bagaimana sukses mengatasinya. Anda hanya akan berhasil membuat mereka ketakutan, merasa terpaksa harus berubah, semangat ikut trainingnya, tapi bingung dan mati gaya harus melakukan apa.

C) Cara yg lebih pas untuk bikin orang terbuka pintu hatinya untuk mau berubah, sekaligus terinspirasi untuk jadi kreatif menemukan solusi adalah dengan memberikan mereka rasa OPTIMISME akan hadirnya kesempatan yang sangat besar menanti di depan mata.
1) Bill Gates melahirkan Microsoft bukan karena ketakutan kehilangan pekerjaan, tapi terinspirasi sekali akan hadirnya komputer, dan optimis bahwa dia bisa bikin software bagus. Akhirnya dia telpon ibunya bahwa dia bakal 6 bulan tidak pulang untuk mengerjakan proyek MS-DOS dari IBM.
2) Mark Zuckerberg bikin Facebook bukan berangkat dari ketakutan akan masa depannya. Bahkan dia pertaruhkan masa depannya dengan DO dari Harvard demi mengejar impian “menghubungkan tiap orang di muka bumi”. Pada saat ceramah di acara wisuda di Harvard, dia mengatakan, yg bikin dia bisa melahirkan Facebook, karena dia merasa tenang, tidak takut apapun. Dan dia ingin menekankan pentingnya setiap orang untuk “bebas dari rasa takut”, untuk mencoba hal2 baru yg inovatif.
3) Steve Jobs, Thomas Alfa Edison, Elon Musk, Jeff Bezos, sebutkan semua inovator kreatif yg bikin perubahan2 radikal abad ini, hampir semuanya tidak ada yg melahirkan inovasinya dalam suasana batin ketakutan akan ancaman situasi masa depan. Mereka semua adalah para OPTIMISTS yg melihat kesempatan besar ditengah kebanyakan orang yang sedang kalut dan takut menghadapi tantangan zamannya.
4) Terakhir, di level lokal, Trio Unicorn Indonesia (Startup bernilai diatas 14 Trilyun rupiah: Gojek, Traveloka & Tokopedia) tidak ada yg dilahirkan dari orang2 yg ketakutan akan masa depan. Mereka semua mendirikan perusahaan2 tersebut dengan suasana batin optimis dan terinspirasi akan peluang besar di depan mata.
5) Singkat kata: Takut & pesimis = Bingung & Mati Gaya, Tenang & Optimis = Kreatif & Solutif

D) Era Disruption adalah era yg seharusnya bikin kita optimis, bukannya malah ketakutan. Mengapa? Karena ini hanyalah era transisi menuju era abundance (keberlimpahan). Minggu lalu saya baru pulang dari training di Singularity Univeristy. Ini adalah salah satu lembaga yg meneliti, mengajarkan dan mempopulerkan istilah “Disruption Era”. Lembaga ini di disponsori oleh NASA, Google, dan perusahaan2 teknologi paling top di Silicon Valley, bahkan bertempat di pusat penelitian NASA disana. Di pusatnya sini, Istilah “disruption era” itu menimbulkan aura positif, optimis, dan penuh semangat. Saya ndak tahu lha kenapa begitu sampai di Indonesia malah diartikan salah kaparah sebagai istilah yg menakutkan dan penuh ancaman. Mungkin karena Prof. Renald sebagai juru bicara utamanya menyampaikannya sepenggal saja (sisi seramnya), jadi banyak orang salah paham, panik dan ketakutan. Itulah mengapa belajar setengah2 itu berbahaya, “little bit learning is dangerous”.

E) Era disruption adalah fase ke-3 dari 6 fase Exponential Growth. Yg menelorkan teori ini adalah Peter Diamandis (Co-founder dari Singularity University tersebut). Menurut beliau, abad ini akan ditandai perubahan besar2an yg terjadi dalam 6 fase (6D’s of Exponential Growth):

1) Digitalization (Transformasi dari analog menjadi Digital. Misal: Kodak menemukan Foto Digital. Atau Musik, Film, Buku, dll dijadikan bentuk digital MP3, MP4, PDF, dll)

2) Deception (Kodak tertipu karena dikira ini teknologi amatir yg ndak bakal bisa menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, karena saat itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixel).

3) Disruption (Diluar kendali Kodak, tiap 18 bulan, ketajaman foto digital naik 2x lipat secara eksponensial. Dan pada saat ketajamannya mencapai 2 Mega Pixel, kualitasnya sudah sama dengan foto analog. Saat itulah Kodak mulai terdisrupsi.) Fase inilah yg bikin kehebohan disana sini, karena di fase ini, Uber mendisrupt perusahaan taxy, AirBnB mendisrupt Hotel, dll. Terjadi kepanikan masal karena dipikir dunia (minimal bisnis kita) akan runtuh.

4) Dematerialization (semua produk digital akhirnya tidak perlu wadah “material” karena tiba2 semua bisa disimpan di Cloud yg siap diunduh kapanpun dan dimanapun. Jadi silahkan dibuang Semua hardisk yg beirisi koleksi Foto digital anda. Upload aja ke Google Foto yg gratis penyimpanannya, kapanpun, dimanapun, pake alat apapun yg kompatibel, jika anda perlu foto itu tinggal download)

5) Demonetization (Begitu semua tidak dalam wadah material, maka harganya makin lama makin turun. Dan satu saat bisa sangat murah dan terjangkau buat semua. Begitu buku sudah di .Pdf kan, harganya nyaris Nol. Silahkan aja ke koleksi 300 juta buku gratis di: www.pdfdrive.net. Sekarang semua Musik, foto, buku, film, serial tv sudah dibikin versi digitalnya, yg kita masih diminta bayar, tapi ini makin lama makin murah, karena tidak ada lagi “biaya cetak”.

6) Democratization (Pada puncaknya, semua produk akan menjadi murah dan tersedia buat semua orang. Anda telah merasakan sebagian, Video call gratis, HP Murah, Belajar & Baca Buku, Nonton Film dan dengar musik gratis, dll. Inilah fase Abundance for All: Keberlimpahan buat semua). Peter Diamandi menulis buku khusus yg menjelaskan fenomenna “Abundance” ini. Sekedar intermezzo: Saat Bill Clinton mempromosikan buku ini, Peter ditanya sama Bill, “mengapa anda jadi orang kok sangat optimis?” Peter menjawabnya, “Karena saya tidak pernah baca berita (apalagi hoax), dan saya hanya percaya sama data2 ilmiah. Dan semua data ilmiah ini mengarah kesana, bahwa kita semua akan berkelimpahan, abundance for all”. Mungkin ada baiknya kita tiru kebiasaaan Peter Diamandis ini agar kita tidak serba pesimis dan ketakutan: Jangan banyak baca berita, mulailah baca data2 ilmiah.

Maka mestinya, era disruption itu tidak perlu ditakuti atau bikin panik, cuman perlu dipahami bahwa ini bagian dari revolusi kemajuan peradaban yg makin lama akan makin cepat dan insya Allah mengarah pada perbaikan buat semua.. the greatest good for the greatest number of people. Kalau dalam revolusi ada korban2 yg bergelimpangan karena ndak cukup paham dan tanggap, itu hal yg biasa. Nanti juga mereka akan belajar. Dan kita semuapun perlu belajar lebih tuntas untuk menyambut Era Baru yang sangat menjanjikan ini.

Kesimpulan:

Terimakasih Prof. Renald Kasali, yang atas jasa bapak telah menggugah banyak orang dan perusahaan untuk shock dan mau berubah. Tapi semoga ini jangan kebablasan jadi ketakutan dan kekhawatiran massal. Karena itu perlu dilengkapi juga dengan wacana penyeimbang yang menyuntikkan optimisme dan harapan.

Karena ide2 besar kreatif dan terobosan2 baru inovatif untuk survive dan Berjaya di era disruption ini tidak akan pernah lahir dari rasa takut dan panik, tapi akan tumbuh subur di pikiran orang2 dan perusahaan2 yg tenang dan optimis.

Salam takdzim buat Prof. Rhenald Kasali dan kawan2 semua yg membaca tulisan ini.

Bloomington, Ahmad Faiz Zainuddin
Mahasiswa MBA
Warwick Business School, UK
Indiana University, USA
Alumni Singularity University, Silicon Valley, USA

Karat Besi Ternyata Dapat Diaplikasikan dalam Teknologi Anti Radar

Karat Besi Ternyata Dapat Diaplikasikan dalam Teknologi Anti Radar

Saya tidak dan belum pernah meneliti tentang kegunaan karat selain kenyataan bahwa karat adalah sampah. Sesuatu yang tidak berguna, cenderung merugikan, dan harapannya kalau punya perkakas dari besi, karatnya akan tidak terlalu banyak-banyak amat.

Semenjak kuliah di Teknik Kimia, yang mana didalamnya juga mempelajari tentang karat atau bahasa ilmiahnya adalah korosi, selalu yang dibahas itu adalah cara pencegahan korosi. Korosi adalah fenomena yang membayang-bayangi semua jenis peralatan yang terbuat dari besi. Korosi adalah niscaya. Tidak bisa tidak. Tidak mungkin dihentikan, karena yang mungkin hanya memperlambat lajunya.

Upaya-upaya pencegahannya banyak seperti dengan anoda-katoda, anoda korban, pengecatan (yang sederhana banget) dan lain-lainnya. Hal itu dimaksudkan agar efek dari korosi tidak terlalu membuat masalah. Saya ingat, di perkuliahan ada pula rumus untuk menghitung umur besi sebelum karat benar-benar membuatnya menjadi tak berguna.

karat-besi
Proses korosi. gambar diambil dari The Central Science, 2000

Saya tidak pernah tahu juga bahwa ada teknologi yang memanfaatkan pasir besi sebagai komponen utamanya. Hingga pada subuh hari itu, selepas sholat berjamaah, dihadapan kengkawan yang sudah kehabisan topik obrolan dan bingung mau ngapain, berbicaralah mas Faishol, mahasiswa tingkat akhir dari jurusan Fisika, FMIPA, ITS. Didapuk untuk menjadi pembicara dadakan tentang subjek penelitiannya yang membuatnya beberapa hari ke depan diundang untuk mempresentasikan kertas kerjanya di Jepang.

Riset beliau bersama timnya berangkat dari ide sederhana diatas ; Korosi itu pasti terjadi. sementara besi yang sudah berkarat itu hanya akan menjadi rongsokan saja. Tak berguna. Nah, kira-kira adakah kegunaan atau bisakah rongsokan tersebut atau produk dari karat besi itu dimanfaatkan? Dan ternyata ada!

***

Sudah bertahun-tahun yang lalu teknologi di bidang aeronautika dan antariksa berkembang pesat. Entah itu untuk transportasi, kemiliteran, teknologi atau pengembangan dari riset-riset sebelumnya. Salahsatu teknologi itu adalah anti radar yang dipasang di pesawat (pesawat siluman) atau sesuatu apapun yang keberadaannya perlu diketahui atau dilacak. Pesawat menggunakan radar yang menyampaikan pesan koordinat dimana pesawat itu berada dengan stasiun pemancar (dan penerima) di bandara. Untuk pesawat komersil, radar ini jelas sangat dibutuhkan. Berapa banyak pesawat yang jatuh dan kecelakaan bermula dari hilangnya kontak antara pesawat tersebut dengan awak kru di bandara. Nah, tapi ada juga beberapa hal yang membuat kita tidak ingin dilacak atau diketahui posisinya. Teknologi untuk membuat radar tidak bisa melacak keberadaan pesawat itulah yang disebut anti radar. Dipasang di pesawat yang bersangkutan dan bekerja pada range frekuensi yang tidak bisa dilacak oleh radar di bandara. Simpelnya seperti itu. Cara kerjanya yang lebih detail, mungkin bisa baca-baca di jurnal terkait.

pesawawat-siluman
Ilustrasi pesawat siluman.

Bidang apa yang perlu teknologi ini? Yap, militer. Dalam perang, posisi menentukan prestasi (kalah atau menang). Pernah dengar cerita kan mengapa Hitler dengan nazinya bisa kalah di perang dunia ke-2? Salah satunya karena komunikasi mereka dan posisi setiap kapal perangnya bisa dengan mudah diketahui oleh musuh. Bagi yang pernah menonton film The Imitation Game, yang menceritakan kisah hidup Alan Turing, sang jenius pembuat mesin enigma alias mesin pemecah sandi, akan ketahuan bagaimana vitalnya untuk menyembunyikan keberadaan pesawat atau kapal-kapal perang.

Anti radar ini dibuat dari elemen yang disebut pasir besi, rumus kimianya adalah Fe2O3. disinilah letak kerennya ide mas Faishol diatas itu. Mereka sadar bahwa pasir besi ini mempunyai rumus kimia yang sama dengan karat besi. Yang itu artinya karat besi bisa dimanfaatkan sebagai bahan substitusi untuk membuat anti radar. Bahan yang murah dan cenderung terabaikan kini bisa jadi bermanfaat. Tahu kan bagaimana tambang pasir besi di Lumajang yang sempat heboh kemarin-kemarin itu yang menyebabkan tewasnya aktivis Salim Kancil? Penambangan illegal itu sangat menguntungkan pihak penambang, tetapi sangat merugikan persawahan dan tanah-tanah warga di sekitarnya.

Sebenarnya perkembangan teknologi anti radar ini sudah jauh berkembang. Di Rusia contohnya, mereka sudah bisa membuat teknologi yang bisa mendeteksi pesawat (atau apapun itu) yang menggunakan anti radar. Teknologi yang mereka buat bekerja pada range frekuensi yang lebih besar, panjang dan mencakup range frekuensi pada titik rentang dimana anti radar bekerja. Riset dari tim mas Faishol berfokus pada kegunaan atau pemanfaatan karat besi untuk membuat anti radar. Ini suatu yang menjadi terobosan baru karena belum pernah ada sebelumnya. Teknik konvensional dalam pembuatan anti radar kebanyakan menggunakan pasir besi.

Saya bertanya kepada beliau, Apakah risetnya itu bisa diaplikasikan dan dibuat? Kata beliau, untuk saat ini belum bisa diaplikasikan. Untuk sebentar saya termenung dan berkerut dahi. Lho, kok tidak bisa di aplikasikan? Kata dia, Penelitian ini baru awal banget. Masih permukaan, belum bisa langsung diaplikasikan. Harus didalami dulu terkait kekuatan ketahanan dengan lingkungan dan korosi. Jadi belum bisa. Memang jauh dari sempurna dan perlu pengembangan lebih lanjut. Fokus dari risetnya sendiri adalah untuk mengetahui pada kedalaman range berapa karat besi bisa berguna untuk teknologi anti radar. Lebih dalam dan lebih lebar. Tetapi bila hal itu sudah mungkin dan terbukti. Aplikasinya terbatas hanya untuk militer saja, karena pesaat siluman (sebutan pesawat anti radar) memang untuk militer, karena kalau untuk teknologi di bidang pesawat terbang, ini kebalikan dari logika umum. Pesawat itu perlu di deteksi agar tidak hilang arah dan tak tau kemana arah jalan pulang dan tetap bisa berkomunikasi dengan pihak bandara.

Yang mengejutkan adalah bahwasannya inspirasi dari riset ini bermula dari apa yang diketemukan oleh mas Faishol ketika membaca salahsatu ayat al-Quran yang menceritakan tentang karunia atau anugerah yang diberikan kepada Nabi Daud, lebih kurang dalam al-Quran itu (saya lupa ayat yang disitir oleh beliau) menjelaskan tentang fungsi dari besi sebagai alat untuk melindungi diri di medan perang. Konteksnya saat itu bisa jadi besi dijadikan untuk perlengkapan perang semacam baju besi, tameng, pedang, dlsb. Tetapi lanjutan ayat itu yang membuat mas faishol merenunginya dalam-dalam, bahwa fungsi besi itu lebih luas lagi bagi orang-orang yang benar-benar memikirkannya. Mas faishol jadi kepikiran tentang karat besi yang merupakan produk dari besi itu sendiri yang tak teraplikasikan, apakah ada guna dan manfaatnya atau tidak? Dan memang ternyata ada. 

Referensi bacaan lanjut :

  1. http://artikel.dikti.go.id/index.php/PKM-P/article/viewFile/24/24. Diakses pada tanggal 1 Agustus 2018.
  2.  Alwi, Muhammad Faisol (2017). “Pemanfaatan Bahan Magnetik (Fe3o4) Berbahan Dasar Karat Besi Hasil Korosi Atmosferik Sebagai Radar Absorber Material”. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
  3. “Pembuatan Pelapis Penyerap Gelombang Mikro Berbasis M-Hexaferrite Dari Pasir Alam Pada Kabin Pesawat “