Benarkah Obat Dapat Menyebabkan Gagal Ginjal dan Kerusakan Fungsi Hati?

blank
Sumber Lifepack.id

Berdasarkan DJ International Journal of Medical Research, obat merupakan hal pertama yang di pertimbangkan saat suatu penyakit menyerang. Dari zaman dulu hingga sekarang masyarakat masih sangat senang menomor satukan obat bahkan hanya untuk mengatasi penyakit ringan seperti flu dan batuk. Manusia percaya bahwa obat memiliki kapasitas untuk mengatur penyakit, memberikan kesehatan, dan kesejahteraan pasien.

Namun, tahukah Anda Sahabat Warstek bahwa penggunaan obat-obatan jangka panjang dapat merusak organ hati dan ginjal?

Lalu, Apa saja obat-obat yang dapat merusak organ hati dan ginjal kita?

Adakah dan bagaimanakah cara untuk mengurangi risiko penyakit hati dan ginjal saat menggunakan obat-obat tersebut?   

Simak penjelasan berikut ini!

Penggunaan obat di masyarakat khususnya obat-obat yang termasuk dalam kelompok  swamedikasi memiliki dampak yang sangat besar bila di konsumsi terlalu sering. Pereda nyeri, penurun asam urat, antibiotik, dan yang lebih berisiko yaitu anti hipertensi umumnya adalah obat-obat yang sering di gunakan masyarakat dan sering di resep kan oleh Dokter sebagai langkah awal pengobatan namun memiliki pengaruh yang cukup tinggi terhadap fungsi ginjal maupun hati.

Ginjal

Ginjal di dalam tubuh memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai organ pengsekresi sebagian besar zat-zat sisa dalam tubuh dan kedua sebagai pengontrol konsentrasi sebagian besar komponen dalam cairan tubuh. Banyak obat dan hasil metabolisme nya di sekresi melalui filtrasi glomerular, sekresi tubular atau keduanya.

Beberapa obat dapat mempengaruhi situs atau bagian komponen yang sama dalam ginjal seperti nekrosis tubular akut dimana merupakan penyumbang terbesar penyebab penyakit gagal ginjal pada orang dewasa. Salah satu obat yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan ini adalah Aminoglikosida dari golongan Antibiotik seperti Gentamicin.

Selain itu, terdapat pula satu golongan obat tetapi dapat menyebabkan beberapa kerusakan di beberapa situs atau bagian komponen di antaranya penyakit gagal ginjal, nefritis interstitial dan glomerulonefritis seperti obat-obat pereda nyeri dari golongan NSAID atau Non Steoridal Anti Inflanation Drug.

Golongan Obat Penyebab Gagal Ginjal

blank

Beberapa obat yang dapat menyebaban kerusakan pada ginjal kita ketika konsumsinya terlalu sering, yaitu:

Sebagian besar masyarakat menjadikan antibiotik sebagai pilihan pertama untuk  mengatasi penyakit ringan seperti nyeri otot, nyeri punggung, nyeri persendian dan jenis penyakit lainnya yang sebenarnya bisa menggunakan obat lain atau bahkan terapi non-obat. Beberapa antibiotik yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada ginjal berasal dari kelompok aminoglikosida termasuk gentamicin, neomicin dan streptomisin, golongan penisilin seperti ampisilin dan amoxisisilin serta golongan sulponamid seperti sulfametoksazol.

  • Antivirus Herpes simpleks

Herpes Simpleks adalah penyakit dengan ciri-ciri ruam dan bengkak pada area tertentu dengan gejala rasa gatal, nyeri, dan sensasi seperti terbakar. Asiklovir merupakan obat yang paling banyak penggunaanya untuk mengobati penyakit ini. Namun penggunaannya yang berlebih akan menyebabkan tingginya kemungkinan terjadi kerusakan pada ginjal Anda.

Nyeri persendian merupakan salah satu gejala yang umunya menyerang orang dewasa hingga lanjut usia. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena tingginya kadar asam urat dalam darah. Konsumsi obat penurun asam urat seperti allopurinol setiap hari dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal.

Obat tekanan darah adalah obat harian yang wajib bagi setiap pasien dengan tekanan darah tinggi. Namun, pada sisi lain penggunaannya yang terlalu sering pun akan memberikan kesempatan bagi ginjal untuk mengalami kerusakan. ACE inhibitor seperti captopril dan lisinopril adalah obat hipertensi yang pasarannya tinggi selain amlodipin.

Saat merasakan nyeri, istirahat yang cukup ataupun penggunaan krim yang bisa memberikan sensai panas saja sudah bisa meredakan rasa nyeri. Namun sayangnya, banyak pasien mengatasi nyeri yang menyerang dengan mengonsumsi obat pereda nyeri seperti asam mefenamat, natrium diklofenak, ibuprofen, piroksikam, meloksikam dan ketorolak. Padahal penggunaan obat-obatan ini hanya akan memperbesar potensi kerusakan ginjal, apalagi pada pasien dengan diagnosa gagal ginjal akut maupun kronis. Penggunaan obat-obatan ini harus diperhatikan.

Asam Mefenamat

Asam Mefenamat merupakan NSAID yang paling populer di kalangan pasien. Sering di gunakan dalam bentuk brand (Mefinal atau Postan) maupun dalam bentuk generiknya (nama umum Asam Mefenamat) untuk meredakan segala bentuk nyeri dari ringan sampai sedang seperti nyeri sakit gigi, nyeri pada perut maupun nyeri pada kaki yang biasanya di sebabkan oleh meningkatnya kadar asam urat atau penyakit sendi lainnya.

Hati

Hati adalah organ prinsip dari banyak metabolisme dan eliminasi obat-obatan. Obat oral dan xenobiotik atau zat asing dalam tubuh sebagian besar bersifat lipofilik atau tidak larut dalam air. Hati memiliki fungsi untuk mengubah obat dari bentuk yang tidak larut dalam air menjadi larut sehingga mudah untuk masuk kedalam sel tubuh manusia dan memberikan efek terapeutik atau efek untuk menyembuhkan. Selain itu juga agar obat mudah di keluarkan. Namun, karena beberapa proses dari pengubahan ini menyebabkan hepatotoksisitas atau kerusakan sel-sel organ hati.

Golongan Obat Penyebab Kerusakan Hati

blank

Konsumsi obat tidak terkontrol dapat menyebabkan 3 tipe kerusakan hati yaitu Hepatocellular dan Cholestatic serta campuran dari keduanya.

  1. Hepatocellular atau hepatoseluler adalah suatu gangguan terhadap integritas atau keutuhan organ hati. Paracetamol merupakan analgesik antipiretik yang dominan penggunaannya termasuk jenis obat yang dapat menyebabkan hepatoseluler. Berikutnya allopurinol sebagai penurun kadar asam urat, antibiotik amoksisilin dan tetrasiklin, obat-obatan TBC seperti Isoniazid dan RImfampisin, Ketokonazole antijamur, Lisinopril dan Losartan obat penurun tekanan darah, NSAID, Omeprazole obat lambung.
  2. Kolestatis atau keadaan ketika gagalnya aliran empedu mencapai usus 12 jari. Penyebabnya bisa karena antibiotik seperti eritromisin serta amoksisilin dan asam klavulanat-nya, klopidogrel obat jantung, juga kontrasepsi oral.
  3. Gabungan Hepatoselular dan Kolestasis. Obat penurun tekanan darah Captopril dan Enalapril, obat epilepsi Carbamazepin, penobarbital dan fenitoin, antibiotik Klindamisin dan sulfonamid, anti alergi Ciproheptadin dapat menyebabkan kedua penyakit ini.

Paracetamol

Hampir semua pasien dari segala usia menjadikan Paracetamol sebagai obat penurun panas pilihan pertama. Padahal penggunaan paracetamol dalam dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan.

Berdasarkan Journal Clinical Review tahun 2009, saat kita mengonsumsi paracetamol (500 mg), organ hati akan mengubah sekitar 90% konsentrasinya menjadi Glukuronida fenolik dan Sulfat dengan bantuan enzim glukuroniltransferase dan sulfoniltransferase. Lalu kemudian hasilnya akan keluar bersama urine atau air kencing.

Enzim hati akan mengubah sisanya sekitar 5% sampai 10% menjadi N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI) yaitu senyawa reaktif yang akan menyebabkan kerusakan pada organ ginjal. Adanya reaksi konjugasi dengan Glutation dapat mencegah proses reaksi ini yang akhirnya akan menghasilkan produk yang larut dalam air yang akan keluar melalui empedu.

Tubuh memiliki enzim glukuroniltransferase dan sulfoniltransferase dalam jumlah yang terbatas. Sehingga tubuh tidak dapat mengsekresi kelebihan paracetamol saat terjadi overdosis. Enzim CYP450 akan mengubah kelebihan paracetamol ini menjadi NAPQI yang menyebabkan konsentrasi senyawa berbaya melebihi jumlah Glutation .

NAPQI dalam keadaan bebas akan menyebabkan kerusakan hati.

Tips mengurangi risiko penggunaan obat jangka panjang

1. Jangan bergantung pada obat

Cobalah hilangkan kebiasaan buruk ini. Memang obat tersebut dapat langsung menyembuhkan, namun ada beberapa efek samping baik itu jangka pendek ataupun jangka panjang. Untuk jangka pendek seperti konstipasi ataupun diare mungkin masih bisa kita atasi dengan mudah.

Namun bayangkan bagaimana dengan efek jangka panjangnnya seperti gagal ginjal atau kerusakan fungsi hati. Tahukah Anda bahwa banyak kasus gagal ginjal dan kerusakan fungsi hati terjadi pada lansia. Seorang lansia yang gemar menjadikan obat sebagai pertolongan pertama lebih berisiko menderita penyakit gagal ginjal.

2. Cobalah terapi non-obat

Anda dapat melakukan olahraga untuk mempercepat penyembuhan. Selain itu, penting untuk Anda melakukan gaya hidup sehat, penuhi kebutuhan nutrisi dan serat dengan bauh-buahan. Kurangi makanan berlemak, gula serta kandungan garam yang tinggi. Manajemen stres yang baik akan mempercepat proses penyembuhan. Tingkat stres yang tinggi merupakan akar dari suatu penyakit. Pejamkan mata sebentar saat terasa begitu lelah. Tubuh kita menjadikan sakit sebagai sirene keadaan tubuh yang sedang tidak baik-baik saja. Saat tubuh normal, metabolisme seimbang, kadar senyawa yang dibutuhkan cukup dan tidak berlebihan tentunya tidak akan ada sinyal yang menyebabkan kita merasakan sakit.

3. Minum obat sesuai aturan pakai

Sering kali, pasien acuh tak acuh dengan penjelasan farmasis di apotek saat penyerahan obat baik dengan resep dokter maupun tanpa resep. Ada beberapa obat yang memang hanya di minum saat sakit namun ada juga obat-obat yang harus di minum sesuai jangka waktu yang telah di tentukan seperti antibiotik dan obat-obat TBC.

Pasien hanya dapat minum antibiotik saat terjadi infeksi bakteri. Tanda atau gejala saat terjadi infeksi meliputi demam lebih dari tiga hari atau inflamasi yaitu bengkak kemerahan dengan rasa nyeri dan panas menjalar pada bagian tubuh tertentu. Pasien bisa mendapatkan antibiotik dengan resep dokter.

Obat antibiotik harus habis dalam masa waktu minimal tiga hari dan harus diminum pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Ketika antibiotik tidak diminum tepat waktu akan berpotensi terjadinya resistensi. Saat resistensi pasien sudah tidak bisa lagi menggunakan obat yang sama karena antibiotik tersebut sudah tidak mempan (resisten) terhadap bakteri. Bakteri sudah menjadi kebal. Akibatnya pasien diharuskan mengganti antibiotik baru. Sedangkan penelitian antibiotik adalah penelitian yang telama dan termahal.

4. Minum obat saat sakit lebih dari 2 hari

Ketika sakit, cobalah istirahat yang cukup terlebih dahulu, penuhi kebutuhan tubuh, penuhi asupan nutrisinya dengan mengonsumsi makanan bergizi, penuhi kebutuhan air dan mineral, bahagiakan tubuh kita sendiri, lakukan hal-hal yang menyenangkan untuk menurunkan stres, kenali kondisi tubuh kita. Tubuh sering kali akan memberikan sinyal terlebih dahulu sebelum akhirnya terjadi suatu penyakit. Dengan mengenali sinyal tersebut kita dapat menolong diri kita sendiri untuk mencegah penyakit tersebut.

5. Jangan men-diagnosa sendiri, bawalah ke Dokter saat benar-benar sakit

Sehat itu mahal, dokter itu mahal, jika anda tidak mau ke dokter karena beberapa alasan salah satunya biaya, silahkan jalani hidup sehat. Jauhi hal-hal yang mengundang penyakit. Jangan merokok. Berhenti mengonsumsi junkfood. Hindari alkohol. Hindari makanan berminyak, makanan manis ataupun makanan yang mengandung garam tinggi. Olahraga teratur. Tidak harus olahraga berat seperti gym ataupun lari. Senam depan rumah dengan musik favorit dan sinar matahari pagi saja sudah cukup.  

Obat adalah racun saat dikonsumsi pada dosis yang tidak tepat, aturan yang salah, dan ketidakpatuhan kita. Mulailah hidup sehat agar kita terhindar dari kewajiban mengonsumsi obat-obatan. Saat sakit pilihlah metode non-obat terlebih dahulu. Tubuh sakit sebagai sinyal ada yang salah di dalamnya.

Berhenti sakiti tubuh kita, jalani aktivitas sehat dan bahagia.

Anonimous, 2021

Sumber

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 4

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Noviyanti Kai
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *